Remember the Time

A piece of paper to write everything I like.

Wednesday, November 7, 2007

Antara Seni Musik dan Komersialitas (part II)

Pada bagian sebelumnya saya menceritakan bagaimana saya berkenalan dengan band Tool. Dari yg semula merasa tidak suka dan menyesal telah membeli albumnya sampai akhirnya mengaggumi band ini. Pada bagian ini saya lebih menyoroti perkembangan band di tanah air. Sebelumnya saya katakan bahwa saya SAMA SEKALI TIDAK membenci hasil karya band tanah air karena bagaimana-pun juga setiap lagu adalah hasil karya seni dan setiap seni pasti memiliki keindahan tersendiri bagi org yg bisa menikmatinya.

Saya sendiri tidak tahu kapan dimulainya tren membentuk band di Indo. Saya hanya merasa sejak band Sheila on 7 muncul dan populer banyak sekali band2 Indo yg bermunculan. Kebanyakan mengusung musik pop dengan balutan suara distorsi gitar. Beberapa juga memasukkan unsur musik rock dalam iramanya. Ada band2 tertentu yg juga menyebut musiknya dengan genre tertentu ada juga yg tidak. Apa-pun klaim band tersebut bagi saya unsur pop biasanya paling mendominasi. Entah itu karena pemilihan tema liriknya atau nada2 yg dipilihnya. Saya biasanya cukup mengatakan ini genre pop Indo.

Yg saya sayangkan adalah musik2 mainstream di Indo terlalu dikendalikan oleh industri. Hanya sedikit celah yg bisa dimanfaatkan oleh musikus utk mengekspresikan jiwa seninya. Saya pasti tidak akan bisa menemukan band seperti Tool di jalur mainstream Indo. Akibatnya band2 Indo (terutama yg baru) terasa monoton bagi saya. Tema paling umum yg dipakai dalam lagu adalah cinta. Ada musisi yg beralasan tema ini bersifat universal, semua orang mengerti, dan sangat luas utk dieksplorasi. Saya setuju hal ini, tetapi apakah harus tema cinta manusia ke manusia saja yg dipakai ? Beberapa lagu dengan tema cinta berbeda saya temukan di lagu Pangeran Cnta (Dewa) dan Sandaran Hati (Letto). Walau saya hanya mendegarkan lagu2 ini jika dimainkan di TV saja, saya angkat topi bagi band yg bisa membuat tema sedalam ini.

Dalam hal komposisi lagu dan aransemen memang antara satu band dengan lainnya pasti terdapat perbedaan, namun tetap berada pada benang merah yg persis sama. Saya sangat menyayangkan hal ini karena sangat banyak musisi berbakat di Indo, namun karena tangan2 besi major label mereka harus tunduk pada pakem aransemen yg ada. Saya tidak tahu lagi jika ternyata musisi itu sendiri yg dengan suka rela menyerahkan dirinya dan mengorbankan bakatnya kepada tangan2 besi major label. Semua dengan alasan untuk mendapatkan kontrak dan agar musiknya laku dijual di pasar. Jika benar hal ini yang terjadi 1 kalimat yg pas adalah ”Happiness in Slavery.”

Pihak major label tidak juga bisa disalahkan sepenuhnya karena mungkin juga konsumen Indo lebih menyukai musik ringan yg mudah dimengerti dan dinyanyikan. Seandainya diberikan musik seprti Tool mgkn tanggapannya pasti tidak jauh beda dari bapak saya ketika mendengarkan Tool. Kemungkinan lain dari saya. Sejak SO7 populer di tanah air, konsumen Indo seakan-akan sudah diedukasi bahwa musik seharusnya seperti itu. Dengan semakin banyaknya band2 yg mengikuti jejak SO7, edukasi itu semakin lama semakin merasuk sehingga akhirnya dalam benak konsumen Indo terbentuk pakem bahwa musik yg bagus adalah pop dengan balutan unsur2 rock ringan dan bertema cinta. Jika hal ini terjadi tentu mau tidak mau siapapun musikus yg ingin berhasil secara finansial harus mengikuti pakem ini. Jadi musisi dan genre musik bisa dianalogikan seperti telur dan ayam, manakah yg muncul lebih dulu ?

Satu hal yg sedang ngetren di Indo adalah penjual musik utk diapakai sebagai ring tone atau nada sambung pribadi. Dengan maraknya bajakan di Indo, penjualan album berupa kaset atau CD tidak bisa terlalu tinggi. Untuk menyiasati hal ini major label bekerja sama dengan provider atau operator seluler utk memasarkan musiknya secara digital. Hal ini adalah langkah yg sangat bagus dari segi marketing. Yg saya sayangkan adalah akibat dari strategi ini. Saya melihat bahwa cover kaset atau CD sekarang dipenuhi oleh kode2 ringtone atau NSP. Kesannya adalah cover itu hanyalah pemanis yg ujung2nya juga digunakan sebagai media utk mendapat pundi2 uang yg lebih banyak lagi. Padahal bagi band di luar negeri seperti Tool cover album justru adalah media utk mengekspresikan seni.

Sebagai penutup saya ingin memberikan suatu ide bagi band di tanah air. Umumnya band suatu saat pasti mempunyai ide untuk mengubah arah musik yg selama ini telah mereka buat misalnya yg biasa membuat lagu2 pop mellow suatu saat mempunyai ide utk membuat musik pop yg lebih upbeat atau yg lainnya. Utk kreasi2 yg diluar pakem atau warna musik umum dr band itu kemungkinan besar akan ditolak oleh label dan tidak dimasukkan dalam album. Tetapi suatu band-kan tidak harus hanya dinikmati dari CD atau kaset. Maka dari itu saya punya usul agar lagu2 yg lebih berkesan project ini ditampilkan saja secara live. Agar penonton tahu, sebelumnya band harus memberikan kata2 pembuka sebelum lagu ini dimainkan misalnya ”Ini adalah lagu yg baru kami buat 1 jam sebelum naik ke atas panggung. Bagi tentu belum tahu lagu ini. Bla...bla..bla... Lagu ini diberi judul bla..bla...bla.” Mgkn saat pertama kl fans tentu akan diam saja mendengarnya, tp jika lagu selalu disisipkan pada tiap kesempatan tentu fans akan mengenal dan membicarakannya. Dengan perkembangan teknologi musik digital saat ini, bukan tidak mgkn ada fans yg membuat bootleg dari lagu ini dan menyebarkannya ke internet.
Jika hal ini dilakukan terus-menerus tentu akan menjadi semacam edukasi bagi fans agar mengetahui bahwa band ini mempunyai keinginan utk membuat lagu dengan warna seperti ini. Tanggapan dari fans bisa diketahui dari email, forum, mgkn juga request bootleg tersebut di radio, dll. Jika ternyata sambutan positif, tentu major label pasti akan mau menerima gaya musik yg baru ini dan memasukkan lagu tersebut dalam album. Singkatnya cara ini sebenarnya menggunakan kekuatan fans untuk ’memaksa’ major label agar mau menerima idealisme suatu band. Satu catatan akhir ada baiknya seluruh hal ini dikonsultasikan terlebih dahulu dengan kuasa hukum band tersebut untuk mencegah adanya pelanggaran terhadap kontrak yg telah ditandatangani band tersebut.

1 comment:

Anonymous said...

Setuju!! sekarang terlalu-terlalu-terlalu banyak group2 band pendatang baru.lagi booming kali y? lagunya standar, semuanya tema patah hati, musiknya itu itu melulu.. dari namanya aneh-aneh dari captain lord sampai vagetoz,dari september band sampai zorro band..

Ren ide bawain lagu yang diciptain 1 jam sebelum manggungnya boleh juga... tapi brarti personelnya harus super-dupper-kreatif n berani nantang manajemen yang organise acaranya, coz list lagunya khan sudah di-set dari jauh2 hari sebelum acaranya...


[olfix.blogspot.com]

Powered By Blogger