Hari ini saya mencoba 1 game yg telah saya bawa dr Indo yaitu Simcity. Ternyata benar2 membosankan, maka saya putuskan untuk menuliskan beberapa hal yg telah saya lalui selama 2 minggu ini. Saya berencana intuk menuliskan beberapa hal yg berbeda kali ini, maka untuk menghindari kebingungan tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa part.
PART I : BETRAYAL
Ini mungkin bukan bagian yg bagus untuk memulai sebuah tulisan, tetapi saya sengaja memasukannya karena alasan kronologis. Sebelum semuanya dimulai sebenarnya ada satu kejadian yang saya alami yaitu pengkhianatan. Dalam hal ini berupa janji yang tidak ditepati. Entah apa yg dipikirkan oleh pihak tersebut, entah dia merasa atau tidak jika sebenarnya dia telah mengkhianati seseorang. Sebagai korban saya seharusnya sangat membenci pihak tersebut, namun (dari pengalaman) amarah dan kebencian justru akan memperburuk masalah. Maka saya memutuskan untuk tetap baik kepada pihak tersebut dengan cara melupakan karena perbuatannya.Namun anehnya justru pihak tersebut yang berubah membenci dan acuh tak acuh terhadap saya. Bukankah ini aneh. Mungkin saja ini dikarenakan pihak tersebut merasa bersalah kepada saya. Namun dari semua sikap saya bukankah dia seharusnya bisa menilai bahwa saya sudah tidak mempermasalahkan pengkhianatannya lagi. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai siapa yang salah atau betul. Jika ternyata kami berdua bersalah saya hanya akan berkata “If there is a hell, I’ll see you there”
Satu pelajaran dari hal ini, dalam berbuat sesuatu sebaiknya kita memikirkan terlebih dahulu bagaimana dampaknya bagi orang lain. Atau cara lain adalah membayangkan jika kita berada dalam posisi orang tersebut dan ada orang lain yang berbuat demikian bagaimana rasanya. Saat ini saya membayangkan bahwa Tuhan sangat adil terhadap diri saya karena sudah ditunjukkan bagaimana rasanya dikhianati sehingga saya tidak akan berbuat demikian kepada orang lain. Saya juga berpikir mungkin Tuhan sedang menunjukkan suatu jalan baru yang lebih baik untuk saya.
PART II : BEING OLD DOESN’T MEAN SOMEONE IS GROWN UP
Saya juga mengalami kejadian dimana seseorang yang sudah berumur berindak tidak lebih dari seorang anak TK. Saya tidak bisa menceritakan nama & kejadian sesungguhnya karena tidak akan baik jika diketahui oleh pihak yang dimaksudkan. Saya hanya member ilustrasi yang mirip.
Bayangkan ada 5 orang siswa TK sedang bermain di halaman sekolah pada saat istirahat. Kemudian satu anak mengeluarkan 1 buah permen dan memakannya di hadapan ke-4 temannya. Karena anak ini memang dikenal tidak suka berbagi dan cenderung lebih suka mengiming2i maka anak yg lain hanya mendiamkan saja. Lalu tanpa ditanya anak itu lalu mengatakan, “Ini permen baruku. Dibelikan oleh kakakku ketika dia berlibur ke Singapura. Rasanya enak sekali lho. Di Indo gak ada permen yang rasanya seperti ini. Rasanya buah2an dicampur dengan coklat. Sebetulnya aku punya 2 biji tapi yang satu sudah kuberikan pada teman lesku.” Salah satu temannya kemudian menyeletuk, “Wah enak juga ya punya kakak yang bisa membelikan oleh2 permen kesukaan adiknya.”
Ini ilustrasi kejadian yang saya alami sendiri, dimana di kejadian sesungguhnya anak kecil pembawa permen itu adalah orang yang sudah seumuran dengan orang tua saya sendiri.
Kesimpulan saya, untuk punya anak & jadi orang tua itu sangat gampang. Namun menjadi orang tua yang benar2 berpikiran dewasa untuk mendidik anak2nya tidak semua orang bisa.
PART III : SENTOSA ISLAND
Kebetulan kemarin saya perdi ke tempat wisata Sentosa Island. Di sana saya berjalan2 sebentar di pantai, pakai acara foto2 pula. Juga ikut naik kereta gantung, nonton pertunjukkan Song of The Sea. Waktu kelaparan juga makan. Ya lumayan bersenang2 setelah kuliah 1 minggu.
Tentang pantai. Saya berjalan2 sebentar di sana dan mengamati apa saja yang bisa dilihat di pantai tersebut. Karena sedang week end jadi lumayan ramai walaupun tidak sampai penuh sesak. Pengunjung banyak orang bule & Singaporean sendiri. Yang justru saya amati adalah panjang pantainya. Di sana sangat pendek tidak seperti pantai di Kuta yang sangat panjang. Lainnya lagi dari pantai jika melihat ke laut justru yang terlihat adalah kapal2 barang yang sedang berlabuh. Bandingkan dengan pantai di Indo (Kuta misalnya) dimana kita bisa melihat laut yang bersih dari kapal2 besar pengangkut barang. Sayang pantai di Indonesia tidak dikelola sebaik di sini. Banyak sampah, tidak teratur. Andai negara kita bisa mengolahnya pantai di Sentosa ini tidak lebih daripada mobil Toyota dibandingin dengan Porsche.
Pengalaman menarik juga pada waktu naik kereta gantung. Waktu sedang menanjak naik saya sangat ketakutan. Karena di sana ada alat foto, saya bisa melihat bagaimana reaksi ketakutan saya. Muka serius, tegang, kedua tangan memegang erat2 pengaman kursi. Definitely freak up !!! Bagian yg saya sukai adalah sehabis naik kereta gantung itu. Di sana kita bisa naik mobil2an yg bergerak karena gaya gravitasi bukan mesin. Jadi kita naik mobil2an di lintasan yang dibuat berliku2 & menurun. Saya sangat suka karena mobil bisa melaju dengan kencang, walau saying lintasannya sangat pendek.
Bagian yg menarik lainnya adalah pertunjukkan The Song of the Sea. Itu adalah pertunjukkan yang memadukan manusia, pertunjukan laser, api (pyrotechnic), air, lagu, cahaya, kambang api, dan cerita yang simple. Lokasi pertunjukannya adalah di pinggir pantai dan menghadap ke laut. Waktu pertunjukannya juga malam dan sedikit remang2. Mungkin untuk menambah kesan romantic. Bicara tentang cerita sebetulnya cukup konyol bagi saya. Ceritanya adalah khas tipe2 Damsel in Distress. Cewek cantik dikutuk dan menunggu ditolong sama cowok yang kesemsem karena kecantikannya. Untuk cerita ini kasusnya adalah Princess Mia yang dikutuk tertidur dan ada pemuda bernama Lee yang berusaha menolongnya dengan menggunakan nyanyian. Nyanyiannya sendiri menurut saya sangat tidak menginspirasi. Saya justru tertarik oleh atraksi air, pyrotechnic, dan kembang apinya. Karena semua itu dipadukan dengan baik dan diiringi oleh musik yang sesuai. Bagian favorit saya adalah pada waktu permainan pyrotechnic yang dipadukan dengan iringan musik yang terdiri dari perkusi yang menghentak-hentak.
Satu hal yang secara implicit dapat ditangkap dari pertunjukan ini adalah negara singapura menghormati semua ras yang ada di negaranya baik moayoritas maupun minoritas. Pada adegan awal dimana tokoh manusia bernyanyi2 di pinggir pantai, mereka menyanyikan lagu berbahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India. Di mana ini mewakili bahasa yang dipakai oleh ras yang tinggal di Singapura. Walau ada beberapa ras di Singapura, namun mayoritas adalah ras Cina. Dan pertunjukan ini menyampaikan hal itu, walaupun secara implisit. Hal itu terlihat dari 2 tokoh utamanya yaitu Lee dan Pricess Mia. Nama Lee sudah menunjukkan bahwa dia adalah ras Cina, sedangkan Princess Mia, walaupun hanya berupa gambar hasil perpaduan sinar laser tampak sangat jelas berasal dari ras Cina.
Saya juga menemui satu hal yang cukup “unik” pada saat berjalan di pinggir pantai. Kebetulan di dekat saya ada tempat yang bisa dibuat untuk berenang. Secara tidak sengaja, saya melihat di sana ada sepasang muda-mudi sedang berendam dalam air dan sedang bercengkerama dengan asyiknya. Mereka tidak melakukan apa2 hanya berbicara sambil berendam, namun jarak kepala kedunya sangat dekat sekali. Padahal di daerah tersebut bukan tempat yang sepi, namun mereka tidak malu dan orang2 yang lewat atau duduk di daerah itu juga tidak peduli dan tidak memperhatikan. Dalam hal ini, saya kagum dengan sikap orang Singapura yang memang menghormati kebebasan orang lain. Mereka tahu bahwa Sentosa adalah tempat wisata dan sangat wajar jika orang datang dengan pasangannya. Dan anda pasti tahu bagaimana kelakuan sepasang anak manusia jika berada tempat yang nyaman dan romantis.
PART IV : THE CAMPUS ITSELF
Kampus saya sebenarnya sama saja dengan kampus yang lain. Hanya saja jauh lebih besar daripada universitas saya pada waktu S1. Karena besar dan tidak semua orang hapal jalan ke arah mana, hampir di setiap lorong ada papan petunjuk arah. Walaupun pada tulisan awal, saya tersesat ke mana2 hanya untuk mencari 1 ruangan, namun dengan berjalannya waktu akhirnya saya lumayan bisa mengikuti arah yang ditulis di papan petunjuk. Sedikit catatan, seorang dosen juga mengomentari bahwa papan petunjuk tersebut tidak jelas karena tidak ada petunjuk seberapa jauh ruangan tersebut berada. Jadi ketersesatan saya waktu itu cukup beralasan.
Ruangan kelasnya sendiri ada 2 macam yaitu kelas besar dan kecil. Kelas besar bentuknya hampir seperti gedung bioskop. Tempat duduk yang bertingkat dan layar yang menangkap gambar dari LCD proyektor di bagian paling bawah tepat di tengah2 ruangan. Hal yang menarik dari ruangan ini ada 3. Pertama adalah pengaturan akustiknya. Suara dosen pengajar bisa terdengar dengan jelas ke seluruh bagian ruangan. Yang lebih unik suara mahasiswa yang bertanya atau menjawab pertanyaan juga bisa terdengar dengan jelas pula ke seluruh ruangan walaupun dia tidak menggunakan mic. Dengan catatan bicaranya tidak berbisik2. Kedua adalah kursi. Kursi di ruangan ini sandarannya tidak fixed alias bisa tegak atau menjadi sedikit menyandar ke belakang. Bagusnya lagi semaksimal apapun kita menyandar pasti akan tetap tegak. Sehingga menurut saya kursi ini tidak terlalu enak untuk tidur. Sandaranny sendiri juga penuh tertutup alias tidak ada bagian terbuka. Jadi untuk mahasiswi tidak perlu bingung apabila bajunya sedikit pendek. Bicara lebih jauh tentang pakaian. Di sini baik semua siswa bebas mengenakan pakaian apa saja. Di mana dalam hal ini tentu mahasiswi akan lebih diuntungkan karena bisa bebas mengenakan pakaian apa saja. Hal ketiga yang menarik adalah letak jam dinding. Jam diletakkan membelakangi siswa sehingga hanya dosen yang bisa melihat jam tersebut. Hal ini menurut saya bagus karena mendorong siswa tidak bingung melihat kapan waktu kuliah berakhir, telebih lagi apabila kuliahnya malam. Untuk kelas kecil ruanganna biasa tidak ada yang istimewa.
Hal lainnya adalah soal kantin. Di sini ada banyak kantin. Tp saya hanya pernah mencoba di dua tempat yaitu kantin engineering dan kantin art. Sementara yang lain cukup jauh sehingga saya malas mencarinya. Kantin di sini memang benar2 untuk mahasiswa. Artinya harga dan makanannya bisa dibilang lumayan murah daripada penjual makanan di luar kampus. Di 2 kantin itu tadi juga ada 2 restoran fast food yaitu McDonald dan Burger King. Harganya sendiri juga lebih murah daripada di luar kampus. Bahkan kalau menjadi member juga bisa mendapat diskon. Kebetulan saya hanya pernah sekali membeli di McD karena sudah terlalu lapar. Hal yang unik lagi adalah tradisi sesudah makan. Di sini semua piring, mangkuk, gelas, atau baki yang sudah selesai digunakan harus dikembalikan sendiri oleh penggunanya ke rak khusus untuk dicuci. Raknya sendiri ada 2 macam yaitu untuk muslim dan non-muslim. Anda pasti tahu apa alasannya. Di sini saya juga melihat bahwa di kampus-pun ditanamkan sikap menghargai keyakinan orang lain.
Di kampus ini juga ada toko buku. Dari beberapa buku yang saya akan beli ternyata harganya jauh lebih murah daripada membeli di luar kampus. Saya mencoba membandingkan 1 buku yang saya beli seharga sing$40 an dengan di Amazon. Ternyata berbeda jauh. Amazon menjualnya lebih dari US$100. Saya beranggapan bahwa buku2 di sini memang sengaja diberi harga yang pas dengan tingkat ekonomi mahasiswa Asia.
Berbeda dengan kampus Indo, di sini semua serba online. Urusan slide kuliah, tugas semua diberikan lewat internet. Kita pasti bisa mendownload slide kuliah sebelum kuliahnya sendiri berlangsung. Namun ada satu kekurangannya, dosen di sini slidenya gila2an. Waktu pertama kali saya sampai syok ketika melihat satu kali kuliah slidenya 70 halaman. Mau di print model gimana. Terlalu kecil takut tidak ada tempat mencatat, terlalu besar bakal tebal. Maka saya memutuskan mengeprint 1 halaman 2 slide dan bolak-balik. Walau agak tebal saya rasa itu yang terbaik. Kenyataannya pada saat kuliah ternyata banyak slide yang dilewati. Ditambah lagi dosen pengajarnya juga tidak enak, akibatnya saya bingung hal apa yang harus dicatat. Walhasil semua hasil print “agak” terbuang sia2.
Berikutnya adalah beberapa hal menarik yang saya alami. Pertama adalah tentang bis. Suatu hari sepulang kuliah saya menuju ke bus stop yang tidak biasanya. Di sana adalah tempat mangkal bis2 ketika malam hari. Kebetulan bis yang datang adalah yang biasa saya gunakan untuk pulang. Bis itu mendekat dan menurunkan orang, tapi anehnya pintu untuk masuknya tidak dibuka. Saya terbengong-bengong di depan pintu dan lebih bengong lagi ketika bis itu ngeloyor pergi untuk parkir. Kebetulan ada seorang mahasiswa India yang baik hati. Dia menjelaskan bahwa bis itu mau berhenti sehingga tidak menerima penumpang. Yang bisa dinaiki adalah bis lain yang sudah lebih dahulu parkir di tempat itu. Istilahnya bis2 itu gantian jalan. Baru dari situ saya mengerti. Ketika sampai di rumah saya berpikir mungkin orang India tadi mau memberi tahu karena dia dulu mungkin pernah mengalami hal itu.
Kedua adalah ketika menunggu bis untuk pulang. Kebetulan ada orang India yang berpapasan dengan saya. Lucunya dia mengenakan baju yang sama dengan milik saya. Saya terbengong2 kaget dan dia-pun juga sedikit melotot. Entah karena merasa risih dipandangi atau karena kaget juga kok bisa baju sama. Padahal selama kuliah S1 belum pernah sekalipun saya menemui orang yang berpakaian sama di waktu yang sama dengan saya.
Ketiga adalah masalah kebebasan umum. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas ketika di Sentosa. Di kampus, banyak ditemui pasangan yang bermesraan. Memang tidak separah yang di Sentosa, namun berpelukan, berciuman (dalam batas wajar) itu adalah hal biasa di sini. Gaya hidup cuek dan bebas memang sudah mendarah daging di sini.
PART V : EPILOGUE
Saya rasa tulisan ini harus diakhiri sampai di sini dulu. Ini adalah beberapa cuplikan yang saya anggap menarik. Mungkin di lain waktu saya bisa menulis hal lain yang lebih menarik dan kembali kepada root awal saya ketika membuat sebuah blog.
Remember the Time
A piece of paper to write everything I like.
Sunday, January 27, 2008
Saturday, January 19, 2008
Frist Experience 888
Pengalaman pertama kuliah di NUS. Pergi ke kelas LT2 (lecture theater 2). Saat itu hujan turun cukup deras. Turun dari bus 151 tepat di depan central library lalu saya berjalan lurus ke depan menuju ke gedung engineering terdekat yaitu E5. Dari sana saya masih belum menemukan petunjuk yang mengarahkan ke LT2. Bekal saya adalah peta yang terdapat no2 gedung. Saya memutuskanmengikuti arah ke gedung EA karena itu satu-satunya gedung yang saya tahu. Tiba ke gedung EA, saya sempat bertanya ke murid perempuan yang juga bingung di mana letak LT2. Akhirnya saya naik ke lift menuju ke lantai 6. Di sana saya menemukan beberapa petunjuk yang mengarahkan ke LT2 termasuk juga kertas yang ditempel2 yang mengatakan ada briefing untuk mahasiswa baru. Namun justru di sini masalah muncul, saya berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya, namun tidak tetap tidak menemukan. Sekalipun ada petunjuk di mana2, namun jika berjalan terlalu jauh akhirnya pasti akan nyasar dan terpaksa harus kembali ke tanda terakhir untuk mencoba rute baru. Kertas2 tempelan tadi juga tidak berguna karena ada hanya di tempat tertentu, tetapi waktu saya mengikutinya lebih jauh tidak ada lanjutannya. Saya juga sempat bertanya ke seorang laki2, dia hanya memberi tahu arah seadanya dan saya berjalan mengikuti feeling saja.
Sampai suatu saat saya menemukan kertas pengumuman di pintu yang mengatakan bahwa LT2 berpindah ke ruangan tersebut. Saya sangat senang karena akhirnya sampai juga. Di dalam ruangan itu ada tiga murid laki2 . Ketika saya bertanya ternyata salah seorang dari mereka mengatakan bahwa ruangan tersebut bukan LT2, maka saya bertanya ke mana arah menuju ke LT2. Mereka semua bingung. Akhirnya saya kembali mengikuti feeling dan petunjuk di langit2. Setelah berputar-putar ke sana kemari saya menemukan petunjuk LT2 panah menuju ke arah kiri atas. Ketika melihat ke kiri saya hanya menemukan jalan buntu dengan 2 jalan ke kiri dan kanan. Ke kiri ada lift dan kanan ke arah tangga naik. Saya memilih tangga. Sampai di atas saya menoleh ke kanan. Syukur ternyata LT2 tepat di kanan saya. Saya mencoba meilhat ke dalam ruangan, yang ternyata kosong. Saya jadi bingung apakah ini ruangan LT2 yang dimaksud. Saya mencoba menelpon dua teman dimana keduanya tidak ada yang menjawab. Akhirnya saya memutuskan bahwa ini pasti ruangan yang benar, kalaupun salah paling saya hanya tidak mengikuti 1 kuliah. Karena lelah akhirnya saya duduk menunggu di depan ruangan itu. Akhirnya salah seorang dari 3 murid laki2 yang saya temui sebelumnya datang. Ternyata dia membawa kabar buruk karena di ruangan itu akan ada briefing untuk murid civil & geothermal engineering jam 1700. Murid itu juga membawa surat yang membuktikan bahwa di ruangan itu benar2 akan diadakan briefing. Saya jadi bingung lalu mencoba menelpon 2 teman tadi. Lagi2 tidak ada jawaban. Murid laki2 itu menyarankan supaya saya mengambil pengumuman yang serupa dengan miliknya di dept ISE (industrial & system engineering). Saya hanya separuh tahu di mana letak dept itu, jadi saya justru khawatir kalau ke sana bakal tersesat dan muter2 lagi dan buruknya lagi bakal tidak tahu ke mana arah balik ke LT2. Dengan berbekal semangat untuk kuliah, saya berangkat ke ruangan dept ISE. Kali ini tidak separah waktu mencari LT2. Sedikit kesasar akhirnya sampai dan berhasil meminta pengumuman yang dimaksud. Tragisnya ternyata jurusan ISE juga harus briefing di LT2 jam 1730. Jadi saya rasa cukup mubazir harus capek2 ke dept ISE ternyata hanya untuk mendapat pengumuman kemabali ke tempat tadi. Lagi2 saya kembali berjalan ke LT2. Kali sudah jauh lebih baik karena tidak kesasar sama sekali karena hanya tinggal men-trace back my last trip. Menariknya pada saat, saya turun keluar dari lift yang kebetulan dekat dengan WC tercium bau khas. I said, “Damn so much shit in this place.” Akhirnya saya bisa kembali ke LT2. Setalah beberapa saat murid2 lain mulai berdatangan. Akhirnya para dosen datang juga yang memberi pengumuman kalau semua orang harus masuk dari arah sebaliknya. Jadi selama ini saya berada di pintu keluar.
Di depan LT2 ada penyambutan kecil2an dengan beberapa hidangan kue dan minuman seadanya. Setelah selesai dimulailah briefing. Ada perkenalan dengan dosen2 baik yang hadir maupun tidak. Ada pula tata cara pengambilan mata kuliah, dll. Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti apa yang dijelaskan karena tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan pembicara dan karena malas juga. Biasa khas mahasiswa. Selesai briefing ada break sejenak. Semua orang keluar. Saat ini hujan telah selesai. Ada 1 orang murid (kemungkinan?) bule yang membawa kamera Nikon DSLR (melihat model lensanya saya percaya kameranya model DSLR). Dia mengambil gambar pelangi yang berada di belakang gedung Singtel yang menjulang tinggi. Di sekitar gedung tersebut juga ada gedung2 lain, namun tidak setinggi milik Singtel. Andai saya punya kamera pasti saya juga akan mengambil momen itu.
Tidak beberapa lama kemudian kuliah dimulai. Namanya Applied Engineering Statistics (keren sekali). Karena baru pertama maka, lecturer memberikan beberapa hal dasar yang sudah pernah saya pelajari 3 tahun lalu. Ironisnya saya sama sekali tidak mengerti semua yang dijelaskan. Selain karena lamanya waktu, kemalasan saya dan metode pengajaran pada saat S1 membuat saya tidak mengerti semua hal itu. Dulu saya hanya diajari rumus2 dan bagaimana cara mengerti penggunaannya, tetapi asal mula rumus2 itu ada tidak dijelaskan. Memang bukan salah dosen, tetapi saya sendiri yang malas mempelajari lebih lanjut. Saya sedikit malu karena untuk mata kuliah tersebut saya mendapat nilai A. Untuk menebus dosa (baca: kemalasan) saya di masa lalu, kali ini tidak ada jalan lain selain membaca buku2 di perpustakaan.
Sampai suatu saat saya menemukan kertas pengumuman di pintu yang mengatakan bahwa LT2 berpindah ke ruangan tersebut. Saya sangat senang karena akhirnya sampai juga. Di dalam ruangan itu ada tiga murid laki2 . Ketika saya bertanya ternyata salah seorang dari mereka mengatakan bahwa ruangan tersebut bukan LT2, maka saya bertanya ke mana arah menuju ke LT2. Mereka semua bingung. Akhirnya saya kembali mengikuti feeling dan petunjuk di langit2. Setelah berputar-putar ke sana kemari saya menemukan petunjuk LT2 panah menuju ke arah kiri atas. Ketika melihat ke kiri saya hanya menemukan jalan buntu dengan 2 jalan ke kiri dan kanan. Ke kiri ada lift dan kanan ke arah tangga naik. Saya memilih tangga. Sampai di atas saya menoleh ke kanan. Syukur ternyata LT2 tepat di kanan saya. Saya mencoba meilhat ke dalam ruangan, yang ternyata kosong. Saya jadi bingung apakah ini ruangan LT2 yang dimaksud. Saya mencoba menelpon dua teman dimana keduanya tidak ada yang menjawab. Akhirnya saya memutuskan bahwa ini pasti ruangan yang benar, kalaupun salah paling saya hanya tidak mengikuti 1 kuliah. Karena lelah akhirnya saya duduk menunggu di depan ruangan itu. Akhirnya salah seorang dari 3 murid laki2 yang saya temui sebelumnya datang. Ternyata dia membawa kabar buruk karena di ruangan itu akan ada briefing untuk murid civil & geothermal engineering jam 1700. Murid itu juga membawa surat yang membuktikan bahwa di ruangan itu benar2 akan diadakan briefing. Saya jadi bingung lalu mencoba menelpon 2 teman tadi. Lagi2 tidak ada jawaban. Murid laki2 itu menyarankan supaya saya mengambil pengumuman yang serupa dengan miliknya di dept ISE (industrial & system engineering). Saya hanya separuh tahu di mana letak dept itu, jadi saya justru khawatir kalau ke sana bakal tersesat dan muter2 lagi dan buruknya lagi bakal tidak tahu ke mana arah balik ke LT2. Dengan berbekal semangat untuk kuliah, saya berangkat ke ruangan dept ISE. Kali ini tidak separah waktu mencari LT2. Sedikit kesasar akhirnya sampai dan berhasil meminta pengumuman yang dimaksud. Tragisnya ternyata jurusan ISE juga harus briefing di LT2 jam 1730. Jadi saya rasa cukup mubazir harus capek2 ke dept ISE ternyata hanya untuk mendapat pengumuman kemabali ke tempat tadi. Lagi2 saya kembali berjalan ke LT2. Kali sudah jauh lebih baik karena tidak kesasar sama sekali karena hanya tinggal men-trace back my last trip. Menariknya pada saat, saya turun keluar dari lift yang kebetulan dekat dengan WC tercium bau khas. I said, “Damn so much shit in this place.” Akhirnya saya bisa kembali ke LT2. Setalah beberapa saat murid2 lain mulai berdatangan. Akhirnya para dosen datang juga yang memberi pengumuman kalau semua orang harus masuk dari arah sebaliknya. Jadi selama ini saya berada di pintu keluar.
Di depan LT2 ada penyambutan kecil2an dengan beberapa hidangan kue dan minuman seadanya. Setelah selesai dimulailah briefing. Ada perkenalan dengan dosen2 baik yang hadir maupun tidak. Ada pula tata cara pengambilan mata kuliah, dll. Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti apa yang dijelaskan karena tidak terlalu mengerti apa yang diucapkan pembicara dan karena malas juga. Biasa khas mahasiswa. Selesai briefing ada break sejenak. Semua orang keluar. Saat ini hujan telah selesai. Ada 1 orang murid (kemungkinan?) bule yang membawa kamera Nikon DSLR (melihat model lensanya saya percaya kameranya model DSLR). Dia mengambil gambar pelangi yang berada di belakang gedung Singtel yang menjulang tinggi. Di sekitar gedung tersebut juga ada gedung2 lain, namun tidak setinggi milik Singtel. Andai saya punya kamera pasti saya juga akan mengambil momen itu.
Tidak beberapa lama kemudian kuliah dimulai. Namanya Applied Engineering Statistics (keren sekali). Karena baru pertama maka, lecturer memberikan beberapa hal dasar yang sudah pernah saya pelajari 3 tahun lalu. Ironisnya saya sama sekali tidak mengerti semua yang dijelaskan. Selain karena lamanya waktu, kemalasan saya dan metode pengajaran pada saat S1 membuat saya tidak mengerti semua hal itu. Dulu saya hanya diajari rumus2 dan bagaimana cara mengerti penggunaannya, tetapi asal mula rumus2 itu ada tidak dijelaskan. Memang bukan salah dosen, tetapi saya sendiri yang malas mempelajari lebih lanjut. Saya sedikit malu karena untuk mata kuliah tersebut saya mendapat nilai A. Untuk menebus dosa (baca: kemalasan) saya di masa lalu, kali ini tidak ada jalan lain selain membaca buku2 di perpustakaan.
Thursday, January 3, 2008
And What She Said...
I can’t believe what she said
She said he made her so confuse
The way he acted and talked
Till’ he said, I love you
She was surprised and shocked
He acted more and more confusing
The way he treated her
So nice, so rude, so cruel
She didin’t understand it
Was it love ?
She said, ”A girl loved him”
Love him too much
Looked after him carefully
Treated him the best she could
All he could do was dumped her
Closed his heart from her love
She was broken and he just didn’t care
Then she said again ”I can’t understand it”
She said with her sad dan confuse eyes
He just loved me not her
He wanted me
What did he see in me ?
She was so much better than me
Could he see what I saw in her ?
I told him, but he just didn’t care
Coz’ there was only one girl in his eyes
And it was me
What she said, ”I didn’t love him coz’ I couldn’t”
So many differences between us
There was no way we can be together
I couldn’t tell him
I was afraid
I just told him that his girl friend was better
He said, ”I cared nothing ’bout her. All I ever wanted was you”
Can I believe all the things she said ?
I can’t tell, but finally everything about him comes down
He did it again
This time to me
And all the things she said are .... TRUE
She said he made her so confuse
The way he acted and talked
Till’ he said, I love you
She was surprised and shocked
He acted more and more confusing
The way he treated her
So nice, so rude, so cruel
She didin’t understand it
Was it love ?
She said, ”A girl loved him”
Love him too much
Looked after him carefully
Treated him the best she could
All he could do was dumped her
Closed his heart from her love
She was broken and he just didn’t care
Then she said again ”I can’t understand it”
She said with her sad dan confuse eyes
He just loved me not her
He wanted me
What did he see in me ?
She was so much better than me
Could he see what I saw in her ?
I told him, but he just didn’t care
Coz’ there was only one girl in his eyes
And it was me
What she said, ”I didn’t love him coz’ I couldn’t”
So many differences between us
There was no way we can be together
I couldn’t tell him
I was afraid
I just told him that his girl friend was better
He said, ”I cared nothing ’bout her. All I ever wanted was you”
Can I believe all the things she said ?
I can’t tell, but finally everything about him comes down
He did it again
This time to me
And all the things she said are .... TRUE
Goth Guitar Tribute to NIN review

Setelah sebelumnya saya menulis review untuk game, kali ini saya akan mencoba me-review sebuah CD musik kompilasi yang berjudul Goth Guitar Tribute to NIN.
Seperti yang terlihat dari judulnya ini adalah sebuah CD yang berisi lagu-lagu yang dibuat untuk menghormati sebuah grup band yang bernama NIN (Nine Inch Nails). NIN sendiri adalah adalah sebuah band metal-industrial yang dibentuk oleh Trent Reznor. Lagu-lagu yang dibuatnya terdiri dari bunyi-bunyian elektronik yang dibuat ber-layer-layer antara yang satu sama lain. Sealin itu, dalam satu lagu juga biasa ditambahkan suara gitar elektrik yang terdistorsi, piano, drum (elektronik ataupun real drum).
Dalam CD ini sendiri semua bunyi-bunyian elektronik tadi digantikan oleh paduan suara gitar akustik yang bertumpuk-tumpuk satu sama lain dan membentuk aransemen yang mirip dengan lagu aslinya. Alat musik lain yang dipakai adalah perkusi dan piano, namun suaranya tidak terlalu dominan karena diletakkan di layer yang paling belakang.
Dalam album ini terdapat lagu sebagai berikut (tidak urut) :
1.Something i can never have (by: versailles)
2.terrible lie (by: jennifer hope)
3.we’re in this together
4.burn
5.closer to god
6.head like a hole
7.heresy
8.hurt
9.mr. self destruct
10.perfect drug
11.ruiner
(3-11 by: goth guitar ansemble)
Lagu no 1 dan 2 tidak terlalu dominan unsur gitar dan lebih menonjolkan suara keyboard atau organ. Terrible Lie yang aslinya dominan unsur drum elektronik, distorsi gitar, dan sound efek diganti dengan suara organ yg lebih sederhana dan suara perkusi yang minimalis menjadikan lagu ini kental suasana magis. Something I .... tetap mempertahankan cirinya aslinya dengan alunan piano, namun suara-suara ambience digantikan dengan petikan gitar dan drum.
Pada lagu no 3 sampai 11 aransemen gitar akustik sangat mendominasi dengan sedikit iringan perkusi dan ambience di background . Semua lagu di sini mencoba menerjemahkan bunyi elektronik dan distorsi gitar yang dibuat oleh NIN ke dalam iringan gitar akustik. Hasilnya 85% sound-sound dominan atau yang menjadi ciri khas yang ada dalam lagu aslinya berhasil diakustikan. Waktu pertama kali mendengar, fans lama NIN mungkin terasa asing, namun setelah melihat judul dan membandingkan aransemennya dengan lagu aslinya pasti mereka akan segera akrab dengan lagu-lagu tersebut. Saya sendiri setelah mendengar versi akustik ini langsung membandingkannya dengan versi aslinya. Saya banyak menemukan sound baru yang sebelumnya tidak terlalu saya perhatikan.Menurut saya, aransemen album ini berhasil membawa suasana lagu NIN ke dalam alunan gitar akustik.
Dari aransemen, saya akan beralih ke bagian vokal. Ada 5 lagu yang dinyanyikan oleh vokalis wanita yaitu Something I..., Terrible Lie, Burn, Closer to God, Heresy, sedangkan sisanya dinyanyikan vokalis pria. Bagian vokal inilah yang membuat nilai album ini menjadi berkurang. Kualitas vokalis pria sangat buruk. Alasannya mereka meniru 100% gaya bernyanyi dan warna vokal Trent Reznor. Akibatnya terkesan bahwa mereka tidak memiliki style dan sangat amatiran. Vokalis wanita sedikit lebih baik karena mereka mencoba sedikit berimprovisasi (misalnya pada kata christianity pada lagu Heresy) dan tidak terlalu memaksa untuk mengikuti gaya bernyanyi Trent. Hal lainnya, pemakaian efek untuk vokal (misalnya pada Heresy, Mr. Self Destruct) yang justru malah merusak ciri suara yang dimiliki vokalis. Memang pada lagu tersebut vokal Trent diberi efek, namun bukan berarti vokalis di album ini juga harus ikut-ikutan meng-efek suaranya. Hal yang paling mengganggu dari segi vokal adalah pengubahan lirik. Pada lagu Closer to God, liriknya diubah habis-habisan misalnya pada bagian (i want to f*** you like an animal) diubah jadi (i want to call you my animal). Memang lagu ini aslinya memiliki lirik yang sedikit vulgar dan hal itu sengaja dilakukan karena temanya memang vulgar. Dengan diubahnya lirik ini, makna lagu ini justru menjadi rusak. Mungkin hal ini dilakukan karena vokalisnya tidak mau menyanyikan explicit language. Jika sudah tahu hal itu mengapa tidak menggunakan vokalis lain untuk menyanyikannya. Ironisnya di lagu-lagu lain, baik vokalis pria maupun wanita dengan santainya melafalkan semua explicit language tanpa ada sensor atau pengubahan sama sekali. Hal ini sangat mengganggu bagi saya dan fans berat NIN mengingat Closer adalah salah satu lagu hits NIN.
Hal yang terakhir ini mungkin hanya masalah selera pendengar saja yaitu soal pemilihan lagu. Bagi saya Hurt dan Something I.... sebenarnya sudah sangat akustik mengapa harus ada lagi yang meng-akustikan-nya lebih jauh. Something I... justru malah sudah dibuat versi full pianonya oleh Trent sendiri (album Still). Terlebih lagi untuk Hurt yang sudah di-cover oleh banyak artis. Hurt di sini kualitasnya terkesan jauh dibawah versi cover misalnya milik Johny Cash. Saya rasa Hurt dimasukkan hanya karena lagu tersebut adalah hits dari NIN. Jadi tanpanya, suatu album yang berbau NIN akan terasa kurang greget.
Kesimpulannya, album tribute ini bisa disukai maupun dibenci habis-habisan oleh fans NIN. Bagi fans yang coba mendengar mereka akan menemukan komposisi yang menarik dimana lagu industrial dimainkan dengan gitar akustik. Saya memberi nilai album ini 7,4.
Pros:
aransemen yang unik
ada lagu-lagu hits NIN
Neg:
kualitas vokalis kurang bagus
ada pengubahan lirik
Seperti yang terlihat dari judulnya ini adalah sebuah CD yang berisi lagu-lagu yang dibuat untuk menghormati sebuah grup band yang bernama NIN (Nine Inch Nails). NIN sendiri adalah adalah sebuah band metal-industrial yang dibentuk oleh Trent Reznor. Lagu-lagu yang dibuatnya terdiri dari bunyi-bunyian elektronik yang dibuat ber-layer-layer antara yang satu sama lain. Sealin itu, dalam satu lagu juga biasa ditambahkan suara gitar elektrik yang terdistorsi, piano, drum (elektronik ataupun real drum).
Dalam CD ini sendiri semua bunyi-bunyian elektronik tadi digantikan oleh paduan suara gitar akustik yang bertumpuk-tumpuk satu sama lain dan membentuk aransemen yang mirip dengan lagu aslinya. Alat musik lain yang dipakai adalah perkusi dan piano, namun suaranya tidak terlalu dominan karena diletakkan di layer yang paling belakang.
Dalam album ini terdapat lagu sebagai berikut (tidak urut) :
1.Something i can never have (by: versailles)
2.terrible lie (by: jennifer hope)
3.we’re in this together
4.burn
5.closer to god
6.head like a hole
7.heresy
8.hurt
9.mr. self destruct
10.perfect drug
11.ruiner
(3-11 by: goth guitar ansemble)
Lagu no 1 dan 2 tidak terlalu dominan unsur gitar dan lebih menonjolkan suara keyboard atau organ. Terrible Lie yang aslinya dominan unsur drum elektronik, distorsi gitar, dan sound efek diganti dengan suara organ yg lebih sederhana dan suara perkusi yang minimalis menjadikan lagu ini kental suasana magis. Something I .... tetap mempertahankan cirinya aslinya dengan alunan piano, namun suara-suara ambience digantikan dengan petikan gitar dan drum.
Pada lagu no 3 sampai 11 aransemen gitar akustik sangat mendominasi dengan sedikit iringan perkusi dan ambience di background . Semua lagu di sini mencoba menerjemahkan bunyi elektronik dan distorsi gitar yang dibuat oleh NIN ke dalam iringan gitar akustik. Hasilnya 85% sound-sound dominan atau yang menjadi ciri khas yang ada dalam lagu aslinya berhasil diakustikan. Waktu pertama kali mendengar, fans lama NIN mungkin terasa asing, namun setelah melihat judul dan membandingkan aransemennya dengan lagu aslinya pasti mereka akan segera akrab dengan lagu-lagu tersebut. Saya sendiri setelah mendengar versi akustik ini langsung membandingkannya dengan versi aslinya. Saya banyak menemukan sound baru yang sebelumnya tidak terlalu saya perhatikan.Menurut saya, aransemen album ini berhasil membawa suasana lagu NIN ke dalam alunan gitar akustik.
Dari aransemen, saya akan beralih ke bagian vokal. Ada 5 lagu yang dinyanyikan oleh vokalis wanita yaitu Something I..., Terrible Lie, Burn, Closer to God, Heresy, sedangkan sisanya dinyanyikan vokalis pria. Bagian vokal inilah yang membuat nilai album ini menjadi berkurang. Kualitas vokalis pria sangat buruk. Alasannya mereka meniru 100% gaya bernyanyi dan warna vokal Trent Reznor. Akibatnya terkesan bahwa mereka tidak memiliki style dan sangat amatiran. Vokalis wanita sedikit lebih baik karena mereka mencoba sedikit berimprovisasi (misalnya pada kata christianity pada lagu Heresy) dan tidak terlalu memaksa untuk mengikuti gaya bernyanyi Trent. Hal lainnya, pemakaian efek untuk vokal (misalnya pada Heresy, Mr. Self Destruct) yang justru malah merusak ciri suara yang dimiliki vokalis. Memang pada lagu tersebut vokal Trent diberi efek, namun bukan berarti vokalis di album ini juga harus ikut-ikutan meng-efek suaranya. Hal yang paling mengganggu dari segi vokal adalah pengubahan lirik. Pada lagu Closer to God, liriknya diubah habis-habisan misalnya pada bagian (i want to f*** you like an animal) diubah jadi (i want to call you my animal). Memang lagu ini aslinya memiliki lirik yang sedikit vulgar dan hal itu sengaja dilakukan karena temanya memang vulgar. Dengan diubahnya lirik ini, makna lagu ini justru menjadi rusak. Mungkin hal ini dilakukan karena vokalisnya tidak mau menyanyikan explicit language. Jika sudah tahu hal itu mengapa tidak menggunakan vokalis lain untuk menyanyikannya. Ironisnya di lagu-lagu lain, baik vokalis pria maupun wanita dengan santainya melafalkan semua explicit language tanpa ada sensor atau pengubahan sama sekali. Hal ini sangat mengganggu bagi saya dan fans berat NIN mengingat Closer adalah salah satu lagu hits NIN.
Hal yang terakhir ini mungkin hanya masalah selera pendengar saja yaitu soal pemilihan lagu. Bagi saya Hurt dan Something I.... sebenarnya sudah sangat akustik mengapa harus ada lagi yang meng-akustikan-nya lebih jauh. Something I... justru malah sudah dibuat versi full pianonya oleh Trent sendiri (album Still). Terlebih lagi untuk Hurt yang sudah di-cover oleh banyak artis. Hurt di sini kualitasnya terkesan jauh dibawah versi cover misalnya milik Johny Cash. Saya rasa Hurt dimasukkan hanya karena lagu tersebut adalah hits dari NIN. Jadi tanpanya, suatu album yang berbau NIN akan terasa kurang greget.
Kesimpulannya, album tribute ini bisa disukai maupun dibenci habis-habisan oleh fans NIN. Bagi fans yang coba mendengar mereka akan menemukan komposisi yang menarik dimana lagu industrial dimainkan dengan gitar akustik. Saya memberi nilai album ini 7,4.
Pros:
aransemen yang unik
ada lagu-lagu hits NIN
Neg:
kualitas vokalis kurang bagus
ada pengubahan lirik
Subscribe to:
Posts (Atom)

