Pada bulan Maret 2007, akhirnya album itu sampai di tangan saya. Saya langsung memainkan track 1 yg diberi judul Vicarious. Mendengar intronya saya bilang ’wah unik juga melodinya dan juga ada metalnya’. Kesan itu hanya bertahan sekitar 2 menit karena beat, irama, lirik lagu itu berubah setelah itu. 4 menit berlalu dan saya menjumpai irama yang lagi2 berubah. Dalam waktu saya juga bertanya-tanya kapan lagu ini akan kembali ke verse yg pertama tadi. Akhirnya pada bagian outro baru saya menemukan intro seperti yg saya temui pertama kali tadi.
Saya kembali mencoba mendengarkan beberapa lagu setelahnya. Yg saya temukan hanya irama, beat yang tidak lazim, dan juga lirik yg tidak jelas. Bahasa gampangnya orang menyanyi dengan gaya kumur2 dan teriak2 gk jelas pada bagian2 tertentu. Pada dasarnya saya adalah pendengar musik konservatif yg lebih suka dengan lagu2 yg urutannya jelas seperti verse-chorus-verse-chorus-interlude-chorus dan variannya sambil sekali2 ikut menyanyikan lirik lagu itu. Mendengar Tool, saya sama sekali tidak bisa melakukan hal itu. Pada satu kesempatan saya juga memutar seluruh album 10.000 Days dari awal sampai akhir di rumah. Kebetulan waktu itu ada bapak saya yg juga ikut mendengar. Pada saat track kedua sebelum terakhir mengalun, bapak saya mengatakan ’Ini lagu yg dibuat oleh org2 yg tidak becus bermain musik. Isinya cuma ribut2 yg tidak jelas tanpa ada suatu melodi tertentu.’ Lalu bapak meninggalkan saya sendirian utk mendengarkan sendiri album tersebut sampai habis. Setelah habis saya merasa pusing, lelah merasa cukup menyesal telah membeli album itu dan memutuskan untuk menyimpan saja album itu.
Saya tidak berhenti sampai di sana. Setelah itu saya membaca riwayat band Tool ini dari Wikipedia. Dari situ saya tahu bahwa Tool adalah band progressive rock. Satu hal yg menarik juga adalah vokalis band ini (Maynard James Keenan) adalah kebiasaannya pada waktu tampil live. Dia lebih memilih berada pada baris kedua di belakang pemain bas dan gitar kadang-kadang juga memilih berada pada tempat yg sedikit gelap atau tidak terlalu banyak lampu. Hal ini cukup aneh karena kebanyakkan vokalis band selalu ditempatkan di depan dan umumnya menjadi pusat perhatian. Keenan punya alasan mengapa ini dilakukannya, dia ingin agar pendengar musik Tool lebih memperhatikan irama dan beat dari suatu lagu daripada sibuk memenyanyikan lirik dan memperhatikan aksi pangung anggota band. Dari hal2 ini saya baru mengerti mengapa musik Tool bersifat dinamis (berubah dari satu irama ke lainnya dalam 1 lagu dan tidak mengikuti pola verse-chorus-verse dst) dan juga liriknya yg tidak terdengar jelas.
Selanjutnya saya mencoba utk men-download ketiga studio album dari Tool dan saya juga menemukan hal yang kurang lebih sama dengan album yg saya beli sebelumnya. Kali saya lebih mampu utk menikmati musik Tool dan saya mengagumi akan kemampuan band ini menciptakan musik yg bersifat atmospheric. Karena semua hal2 di atas wajarlah jika Tool menjadi band paling tidak dikenal di USA. Logikanya adalah penikmat musik jenis konservatif sangatlah banyak, kita ambil sebagian kecil dari golongan itu yg merupakan penggemar musik rock dan ambil lagi sebagian dari kelompok kecil itu merupakan penggemar progressive rock.
Setelah mendalami lebih lanjut saya akhirnya mampu utk menikmati musik Tool. Caranya adalah cukup dengarkan saja irama dan beat-nya dengan tidak terlalu serius dan lupakan liriknya (biarkan si Keenan nyanyi sesukanya) dan anda akan menemukan suatu atmosfir lagu yg unik. Saya juga tertarik dengan kemasan album Tool. Album 10.000 Days memiliki artwork 2 gambar yg sama persis seperti ini

dan juga sebuah alat bantu seperti kaca pembesar ini

Jika kita melihat gambar di atas menggunakan kaca ini sesuai dengan petunjuk yg disertakan dalam album ini, maka kita akan melihat gambar tersebut seolah2 berupa gambar 3 dimensi. Cukup unik bukan. Kabarnya kemasan album ini memenangkan penghargaan Grammy 2006 utk kategori kemasan album terbaik.






