Remember the Time

A piece of paper to write everything I like.

Monday, October 29, 2007

Antara Seni Musik dan Komersialitas (part I)

Seminggu terakhir ini, saya sedang demen2-nya mendengarkan 4 buah studio album yg dibuat oleh satu band dari USA yaitu Tool. Sedikit kilas balik. Saya pertama kali tahu band ini dari berita di Metropolis (kuartal pertama tahun 2007) yg mengatakan (seingat saya) Tool adalah band terkenal sekaligus paling tidak dikenal di USA. Saya sendiri tidak pernah tahu mengapa si penulis mengatakan hal ini. Dari berita tersebut saya mengetahui bahwa band ini punya sebuah album baru yang berjudul 10.000 days. Karena waktu itu saya sedang gemar dengan musik metal, saya tertarik untuk membeli album tersebut.

Pada bulan Maret 2007, akhirnya album itu sampai di tangan saya. Saya langsung memainkan track 1 yg diberi judul Vicarious. Mendengar intronya saya bilang ’wah unik juga melodinya dan juga ada metalnya’. Kesan itu hanya bertahan sekitar 2 menit karena beat, irama, lirik lagu itu berubah setelah itu. 4 menit berlalu dan saya menjumpai irama yang lagi2 berubah. Dalam waktu saya juga bertanya-tanya kapan lagu ini akan kembali ke verse yg pertama tadi. Akhirnya pada bagian outro baru saya menemukan intro seperti yg saya temui pertama kali tadi.

Saya kembali mencoba mendengarkan beberapa lagu setelahnya. Yg saya temukan hanya irama, beat yang tidak lazim, dan juga lirik yg tidak jelas. Bahasa gampangnya orang menyanyi dengan gaya kumur2 dan teriak2 gk jelas pada bagian2 tertentu. Pada dasarnya saya adalah pendengar musik konservatif yg lebih suka dengan lagu2 yg urutannya jelas seperti verse-chorus-verse-chorus-interlude-chorus dan variannya sambil sekali2 ikut menyanyikan lirik lagu itu. Mendengar Tool, saya sama sekali tidak bisa melakukan hal itu. Pada satu kesempatan saya juga memutar seluruh album 10.000 Days dari awal sampai akhir di rumah. Kebetulan waktu itu ada bapak saya yg juga ikut mendengar. Pada saat track kedua sebelum terakhir mengalun, bapak saya mengatakan ’Ini lagu yg dibuat oleh org2 yg tidak becus bermain musik. Isinya cuma ribut2 yg tidak jelas tanpa ada suatu melodi tertentu.’ Lalu bapak meninggalkan saya sendirian utk mendengarkan sendiri album tersebut sampai habis. Setelah habis saya merasa pusing, lelah merasa cukup menyesal telah membeli album itu dan memutuskan untuk menyimpan saja album itu.

Saya tidak berhenti sampai di sana. Setelah itu saya membaca riwayat band Tool ini dari Wikipedia. Dari situ saya tahu bahwa Tool adalah band progressive rock. Satu hal yg menarik juga adalah vokalis band ini (Maynard James Keenan) adalah kebiasaannya pada waktu tampil live. Dia lebih memilih berada pada baris kedua di belakang pemain bas dan gitar kadang-kadang juga memilih berada pada tempat yg sedikit gelap atau tidak terlalu banyak lampu. Hal ini cukup aneh karena kebanyakkan vokalis band selalu ditempatkan di depan dan umumnya menjadi pusat perhatian. Keenan punya alasan mengapa ini dilakukannya, dia ingin agar pendengar musik Tool lebih memperhatikan irama dan beat dari suatu lagu daripada sibuk memenyanyikan lirik dan memperhatikan aksi pangung anggota band. Dari hal2 ini saya baru mengerti mengapa musik Tool bersifat dinamis (berubah dari satu irama ke lainnya dalam 1 lagu dan tidak mengikuti pola verse-chorus-verse dst) dan juga liriknya yg tidak terdengar jelas.

Selanjutnya saya mencoba utk men-download ketiga studio album dari Tool dan saya juga menemukan hal yang kurang lebih sama dengan album yg saya beli sebelumnya. Kali saya lebih mampu utk menikmati musik Tool dan saya mengagumi akan kemampuan band ini menciptakan musik yg bersifat atmospheric. Karena semua hal2 di atas wajarlah jika Tool menjadi band paling tidak dikenal di USA. Logikanya adalah penikmat musik jenis konservatif sangatlah banyak, kita ambil sebagian kecil dari golongan itu yg merupakan penggemar musik rock dan ambil lagi sebagian dari kelompok kecil itu merupakan penggemar progressive rock.

Setelah mendalami lebih lanjut saya akhirnya mampu utk menikmati musik Tool. Caranya adalah cukup dengarkan saja irama dan beat-nya dengan tidak terlalu serius dan lupakan liriknya (biarkan si Keenan nyanyi sesukanya) dan anda akan menemukan suatu atmosfir lagu yg unik. Saya juga tertarik dengan kemasan album Tool. Album 10.000 Days memiliki artwork 2 gambar yg sama persis seperti ini


dan juga sebuah alat bantu seperti kaca pembesar ini


Jika kita melihat gambar di atas menggunakan kaca ini sesuai dengan petunjuk yg disertakan dalam album ini, maka kita akan melihat gambar tersebut seolah2 berupa gambar 3 dimensi. Cukup unik bukan. Kabarnya kemasan album ini memenangkan penghargaan Grammy 2006 utk kategori kemasan album terbaik.

Bukan Dadu Biasa

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel di blog teman yang membahas tentang dadu inilah cuplikannya

Dadu (dari bahasa Latin: datum yang berarti "sesuatu yang diberikan atau dimainkan" adalah sebuah objek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak. Dadu digunakan dalam berbagai permainan anak-anak dan judi seperti ular tangga, monopoli, baccarat, hingga kuru-kuru...

Untuk artikel lengkapnya bisa dibaca di olfix.blogspot.com

Dari artikel ini saya baru sadar kl beberapa waktu lalu saya memainkan game yg sangat bergantung pada dadu. Permainan itu bernama Dungeon & Dragons. Biasa juga disingkat D&D.

Saya akan bercerita sedikit tentang permainan tadi. D&D adalah permainan RPG table-top. Artinya, dalam D&D kita melakukan hal2 yg biasa ada di game RPG seperti bertempur dengan monster, menjalankan misi, mencari item-item, menolong seorang karakter, meng-cast magic, dll, tetapi semuanya dilakukan pada selebar kertas yang diletakkan di atas meja. Jika dimirip-miripkan mungkin seperti permainan ular tangga. Namun berbeda dengan ular tangga yang hanya memakai sebuah dadu dan beberapa pin, D&D menggunakan alat bantu berupa alat tulis dan kertas kosong (untuk menghitung dan mencatat), pin-pin atau action figure (untuk menandai jagoan kita atau monster), buku petunjuk permainan D&D, dan dadu. Pada beberapa permainan juga ditambahkan berbagai bentuk seperti benteng, rumah, pohon, dll utk menyemarakan suasana.

Action Figure (Capricious Copper Dragon)

Saya tidak akan membahas lebih dalam soal permainan ini sendiri karena fokus saya hanya pada dadu yang digunakan. Permainan seperti monopoli, ular tangga, dsb menggunakan dadu bersisi 6, sedangkan D&D menggunakan dadu yang bersisi 4,6,8,10,12, dan 20. Bentuknya adalah sebagai berikut (dari kiri ke kanan, dadu bersisi 4,6,8,12,20 dan dua buah dadu sisi 10)


Dadu Polyhedral D&D

Mengapa sampai begitu banyak dadu yang dipakai ? Seperti saya katakan di atas, dalam D&D pemain melakukan berbagai macam hal seperti menyerang monster, membuka kunci, dll. Contoh penggunaan yang paling mudah adalah sebagai berikut. Misalkan ada pedang yang memiliki nilai damage 2d8. Angka 2 artinya ada dua buah dadu, sedangkan 8 adalah jumlah sisi dadu yang digunakan dengan angka terkecil adalah 1 dan yang terbesar adalah 8. Seandainya pedang ini digunakan untuk menyerang musuh, maka damage minimum yang dihasilkan adalah 2 (dari hasil 1+1=2 karena setiap dadu menghasilkan nilai 1) dan maksimum adalah 16 (dari hasil 8+8=16 karena setiap dadu menghasilkan nilai 8). Dalam kasus lain bisa saja juga angka dadu ini digunakan sebagai nilai pinalti atau nilai pengurang. Misalkan ada satu pedang yang memiliki attribut drain level 1d2 per turn. Artinya setiap musuh yang terkena sabetan pedang ini akan mengalami penurunan level sebesar 1 atau 2 setiap turn selama pertempuran berlangsung.

Kesimpulannya, ada banyak kegunaan dadu dalam permainan. Walau fungsi utamanya tetap yaitu untuk mendapatkan suatu angka acak, namun dalam permainan tertentu misal D&D, dadu memainkan peranan yang sangat vital dalam kelangsungan permainan itu sendiri.

(Thank’s untuk Olfi atas pinjaman artikelnya dan kru pembuat Neverwinter Night 2 yang telah membuat manual game yang cukup panjang, namun mudah dipahami oleh orang-orang awam seperti saya ini)

Sunday, October 21, 2007

Problem with Motorcycle Driver

Tradisi mudik adalah kebiasaan yg setiap tahun dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Pada waktu mudik terjadi perpindahan orang yg besar2-an, umumnya dari kota2 besar ke kota yg lebih kecil. Mereka umumnya menggunakan kendaran umum dan juga kendaran pribadi pada waktu kembali ke kampung halamannya.

Dari hasil penelitian Jawa Pos jumlah mobil yg digunakan tahun ini berjumlah sekitar 1,2 juta, sedangkan sepeda motor sekitar 2,4 juta. Jadi pengguna sepeda motor dua kali lipat lebih banyak dari mobil. Hal inilah yg ingin saya cermati.

Beberapa tahun terakhir ini bisa kita amati bahwa jumlah sepeda motor dari tahun ke tahun semakin meningkat. Jika kita keluar rumah pada hari2 libur, Sabtu, atau Minggu malam, bisa kita lihat bahwa ada banyak sekali sepeda motor di jalan. Bahkan bisa dibilang kemacetan di jalan juga diakibatkan oleh sepeda motor yg melimpah ruah. Melihat hal ini, saya sering bercanda dalam hati mengatakan, sekarang ini sepeda motor tidak ada bedanya dengan sekumpulan laron yg mengelilingi sumber cahaya. Berputar ke kanan-kiri, ke depan, belakang, dll.

Hal yg saya memprihatinkan saya adalah perilaku pengendara sepeda motor. Saya melihat banyak pengendara yg sangat2 tidak menghormati pemakai jalan yg lain, mau menang sendiri, tidak patuh pada aturan jalan raya, dll. Semua orang pasti sudah tahu gaya pengendara sepeda motor yg zig-zag dr satu jalur ke jalur yg lain, belok sekenanya tanpa melihat apa yg ada di belakangnya dan tanpa memberi tanda. Ada juga perilaku yg tidak sabaran yg sebenarnya akan membahayakan diri pengendara motor sendiri seperti berada di sebelah kiri mobil yg akan berbelok walupun cm ada sedikit tempat, memotong jalur mobil yg sedang berjalan lurus utk karena akan berbelok ke kanan atau kiri, berbelok dengan kecepatan tinggi kadang juga langsung menyeberang ke jalur di sebelahnya, dll. Beberapa kali saya juga menjumpai perilaku pengendara yg jelas2 belum terbiasa mengendarai motor seperti lupa mematikan lampu sein, berjalan lurus namun gontai layaknya anak kecil yg baru pertama kali belajar mengendarai sepeda roda dua. Ada juga tren terbaru yg mengubah suara bel atau knalpot dengan suara2 yg aneh seperti bunyi lonceng sapi, suara ledakan petasan, dll.

Sudah tidak terhitung berapa kali saya merasa jengkel dengan perilaku pengendara yg seperti ini. Pernah suatu kali karena sudah sangat jengkel dalam hati saya mengatakan pengendara yg ngawur ini lebih baik tidak pernah dilahirkan atau jika mau lebih cepat mati saja. Dengan satu syarat mati bukan karena kecelakaan tp karena penyakit atau apa yg tidak merugikan orang lain. Sebab kecelakaan sendiri masih akan menyebabkan kerugian bagi orang lain.

Memang pikiran ini sedikit gila, namun saya memiliki alasan kecil mengapa ini jauh lebih baik. Jika ada satu pengendara yg sejak muda sudah terbiasa ugal-ugalan, suatu saat dia menikah dan punya anak. Ada kemungkinan anak tersebut akan diajari naik sepeda motor oleh bapak yg ugal2-an tadi. Hasilnya pasti juga akan sama atau bahkan lebih ugal2an. Mgkn sang bapak selama ini masih baik2 saja, tp apakah menjamin sang anak juga akan terus mujur seperti sang bapak. Jika tidak tentu akan mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak salah satunya adalah sang orang tua.

Pendapat ini saya yakin tidak benar karena analoginya jika sebuah pohon menghasilkan buah yg jelek lebih baik dimusnahkan dulu saja pohonnya sebelum keluar buah yg jelek. Apakah tidak lebih baik memberikan nutrisi atau vitamin pada pohon agar buahnya bisa baik ? Jika dikembalikan lagi ini sama saja dengan mengubah sistem pemberian SIM. Mgkn gambaran kasarnya adalah memperketat syarat pemberian SIM, agar orang2 yg sudah benar2 paham akan aturan jalan raya yg pantas turun ke jalan. Dengan sistem dan kebiasaan yg ada sekarang ini, saya pesimis cara ini bisa diterapkan dengan benar. Seandainya saja hal ini benar2 terjadi, orang yg pantas ini masih harus berhadapan dengan orang2 lama yg kebiasaan ugal2annya sudah mendarah daging. Prinsip saya, kita bisa saja mengendarai kendaran dengan benar tp orang lain belum tentu seprinsip dengan kita bahkan tidak jarang malah menganggap kita ini yang berkendara dengan ugal2an. Solusi saya adalah selalu waspada di jalan, senantiasa belajar dari setiap kejadian di jalan, memastikan kondisi kita dan kendaraan selalu prima, dan sedapat mungkin menghilangkan hal2 yg bisa mendatangkan bahaya dari diri kita sendiri.

Akhir kata, saya tidak bermaksud mendiskreditkan pengendara kendaraan di mana-pun juga. Saya hanya ingin menceritakan beberapa kesalahan yg sering dilakukan oleh pengendara sepeda motor karena motor adalah alat transportasi dimana pengendaranya sangat minim mendapatkan perlindungan dari kendaraan. Maka dari itu utk kebaikkan saya, anda, dan bangsa ini, tulisan ini dibuat.

Saturday, October 13, 2007

Dahlan Iskan



Dlm posting kl ini saya ingin memberikan tanggapan tentang tulisan 32 seri yg ditulis oleh Pak Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group) di harian Jawa Pos. Bagi anda yg mengikuti pasti mengetahui apa yg dituliskan oleh Pak Dahlan. Bagi yg belum tahu, inti dari tulisan tersebut adalah menceritakan bagaimana asal mula Pak Dahlan mengalami sakit hingga akhirnya menjalani transplantasi hati di Cina. Selain itu, tulisan itu juga menyinggung hal2 lain seperti kisah hidup Pak Dahlan, pengalaman2, pandangan tentang perilaku orang pada umumnya, dll.

Kesan saya pada waktu membaca seri pertama tulisan Pak Dahlan, pasti akan membosankan karena sudah ada spoiler yg mengatakan bahwa tulisan ini mgkn sepanjang 50 seri. Saya pikir menjelaskan tentang proses transplantasi sebanyak 50 seri dengan masing2 tulisan 1000 kata betapa membosankannya. Saya masih mengira mungkin dalam tulisan2 tersebut akan disertakan foto2 yg penting dalam proses transplantasi itu, jadi sedikit ada hiburan berupa gambar.

Ketika membaca sampai episode ke 10-an, saya mulai merasa bahwa foto pasti tidak akan dimuat sama sekali, mgkn karena foto2 tentang proses operasi atau organ2 yg terlibat dalam operasi tersebut tidak layak dipublikasikan karena bisa menganggu orang yg tidak terbiasa dengan hal2 seperti itu. Memasuki episode 20-an akhir, akhirnya saya baru tahu bahwa Pak Dahlan akan menerbitkan tulisannya dalam buku beserta foto2 tersebut. Hal itu bisa cukup membantu utk org2 (termasuk saya) yg kesulitan membayangkan bagaiman hati yg telah sirosis itu bentuknya.

Anyway, tulisan itu sendiri ada kekurangan dan kelebihannya. Saya akan menuliskan kelebihannya di bawah ini:
- Memberikan gambaran hepatitis B tentang gejala awal, penyebab, terapi yg bisa dilakukan, dan bagaimana langkah2 sederhana yg bisa digunakan utk memperlambat proses penyebaran virus ini di hati.
- Bahasa yg sangat mudah dipahami, santai utk dibaca, dan banyak joke2 sederhana sehingga pembaca tidak bosan.
- 1 yg menjadi kelebihan utamanya, Pak Dahlan kemungkinan memberikan kritik2 sosial yg membangun utk masyarakat kita. Hampir 70% dari tulisan itu sendiri banyak mengupas hal2 yg sering terjadi dalam masyarakat kita dan Pak Dahlan memberikan tanggapannya sendiri tentang hal2 tersebut jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, logika, dan juga aspek2 yg lain.
- Sebagai satu pembuktian bahwa motto ”SUCCESS IS MY RIGHT” (Andrei Wongso) benar adanya.
- Berkaitan dengan hal di atas, bagi2 sebagian org tulisan itu juga bisa menjadi semacam cerita motivasi.

Sedangkan kekurangan dari tulisan itu adalah sebagai berikut:
- Tidak tersusun secara baik. Artinya cerita itu sendiri tidak urut & terkesan melompat-lompat dan bagian2-nya kadang terkesan ditambal-sulam (sepertinya tulisan dibuat ketika Pak Dahlan mendapat inspirasi utk menuliskannya). Padahal di bagian awal Pak Dahlan sendiri yg mengatakan bahwa diasudah punya gambaran yg jelas apa yg akan ditulis pada tiap episodenya. Usul saya utk edisi buku nanti lebih baik dibuat urut misalnya bagian pertama mengulas masa kecil Pak Dahlan, kedua bagaimana waktu sekolah, ketiga waktu mulai bekerja pertama kali, dst. Tidak masalah bagi saya jika dalam bagian2 itu diberikan pandangan, opini, atau masukan dari Pak Dahlan.
- Seri 28 sampai habis sepertinya sudah sangat tidak fokus pada kisah transplantasi lever itu sendiri.
- Pada bagian awal dituliskan bahwa Pak Dahlan akan memberitahukan tempat dimana transplantasi itu dilakukan. Sampai akhir episode saya tidak menemukan dimana nama atau alamat spesifik dari tempat itu. Dan akhirnya baru diberi tahu pada saat tanya jawab pembaca.
- Ada kesan tulisan tersebut sengaja dibuat panjang. Inti cerita itu sendiri pendek, namun karena diselingi dengan hal2 lain jadinya sangat panjang. Hal itu bisa membuat pembaca bosan, walaupun cara penulisan Pak Dahlan sendiri sebenarnya tidak membosankan. Analoginya, ada orang yang sangat gemar makan sate ayam. Seandainya dia disuruh nasi dengan lauk sate ayam saja selama 2 bulan penuh, kemungkinan orang ini juga bosan.

Yang terakhir ini lebih bersifat kesan saya terhadap tulisan itu sendiri. Mirip dengan kisah sinetron/opera sabun di Amerika. Beberapa sinetron Amerika yang pernah saya tonton selalu mempunyai satu alur cerita utama yang ditayangkan selama 1 season. Selama 1 season itu sendiri, ceritanya akan bercabang ke mana-mana, namun semuanya mendukung alur cerita utama dari awal sampai akhir. Alur cerita Pak Dahlan menurut saya seperti itu. Alur seperti ini tetap jauh lebih baik daripada gaya penceritaan sinetron Indonesia.

Anyway, selamat buat Pak Dahlan yang akan menempuh hidup baru dengan liver barunya.

Tuesday, October 9, 2007

Ooooo.. Ooooo.. Foot Hurt



Di atas adalah foto dari 3 buah bekas luka yg ada di kaki kiri saya. Dapat dilihat mana yg terlama hingga yg terbaru. Penyebabnya adalah sebuah ujung paku yg sedikit menyembul di kursi yg saya duduki. Pertanyaannya kl ada di kursi mengapa yg terkena kaki bukan pantat. Paku ini terletak di ujung tempat dudukan kursi jadi letaknya masih jauh dari pantat tp tepat di atas paha saya. Lho bukannya yg harus terkena bagian paha. Begini ceritanya, ketika duduk saya kadang2 menyilangkan kaki ke bagian ujung kursi. Pada waktu itu proses penyilangan tersebut, kaki saya bergerak dari arah kiri ke kanan. Jd itulah jawaban mengapa luka ini ada di kaki dan bentuknya memanjang.

2 luka yg pertama bahkan saya tidak mengetahuinya. Yg saya rasakan cuma kaki menyerempet sesuatu yg benda sedikit tajam. Saya berpikir ini pasti sebuah paku. Asal saya sedikit berhati2 tentu tidak akan terluka. Saya memang tidak memperhatikan ketika kaki saya menyerempet paku itu. Baru pada kejadian yg terakhir ini saya mencoba utk melihat ternyata benar2 menimbulkan luka di kaki. Bahkan tidak hanya satu bahkan ada dua lainnya. Jd saya menyimbulkan sudah beberapa kali kaki saya terserempet.

Saya tidak bermaksud utk membesar-besarkan hal ini. Tapi ada satu pelajaran yg saya dapat dari hal ini.

Sekecil apa-pun masalah harus diselesaikan dengan cepat. Lebih baik lagi jika penyebab timbulnya masalah dicari dan diselesaikan sebelum menyebabkan sesuatu yg merugikan




Saturday, October 6, 2007

Is This a New Way of Advertisement ?

This is my third post which includes about Hellgate London. Maybe some of you will ask why I always include this game in some of my postings. It is because there are some aspects outside the game itself which I consider interesting. So, to make this posting more interesting, I include a new twist to it. I guess you already know what it is.


About a month ago, I bought the first trilogy of Hellgate London novel. The title is Exodus so I will using that name to refer to the novel for the rest of my posting. I finished reading Exodus in a week and I was quiet pleased with its story. The story of Exodus was about three characters whose names are Simon, Leah, and Warren. They all had a role in this story and they also referred to the three classes in the game. As mentioned by its writer, Mel Odom, the story in Exodus happened eighteen years before the story in the game. If you interested with it, you can read it by yourself because I’m not going to give any spoiler about the book.

Besides the story, I also interested about the function of this book. I don’t think it’s just an ordinary novel based on a game. It’s bigger than that. In my opinion, Exodus is a part of the marketing campaign from the game publisher and developer. Why I can say it ? Because Exodus is published four months before the game is released. As a comparison, everyone knows about the famous Harry Potter. There are games and movies based from it, but all of which are made and released after the novels. The games itself only act as a company for the film and are targeted for the Harry Potter fans.

The opposite thing happen for Hellgate London. The novel or graphic novels only act as a support for the game. Easy to say, the novel acts as a teaser for PC gamers, especially gamers who have waited for the game. After the game is released, the novels still have its usefulness. They act as long term advertisement. Any PC gamers who don’t know about the game but have read it will be curious to play the game. So after about a year or two after it is released, there are still gamers who will buy it.

The developer of the game has learned that novels can give a great advantages for a game. Blizzard with its famous game, Warcraft, have proofed it. Those of you who are curious about Blizzard can read my previous posting. The first Warcraft game was released in 1994, and was followed by its second and third series. The newest game from the series is World of Warcraft. Prior from its released, Blizzard has contacted some fictional-novel-writers to make stories based from the Warcraft series. Some of the stories take place before the Warcraft I story begin. If we combine all of the stories with the game, we will know the whole story about what happen in the Warcraft universe. With this, in the future, Blizzard can make Warcraft IV to continue the Warcraft story. Gamers who is curious with the continuation of this story will likely buy and play this game. This process will continue to happen untill Blizzard decides to end the story of Warcraft.

I think this is what the developer of Hellgate London wants to happen.

(This posting is dedicated for Blizzard for making such a great game and all of the writers who write the novels based on Blizzard games)

Friday, October 5, 2007

About Education

We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers, leave them kids alone
Hey, teachers, leave them kids alone
All in all it's just another brick in the wall
All in all you're just another brick in the wall


Ini adalah lirik dari lagu yg berjudul Another Brick in The Wall part 2. Ditulis oleh Pink Floyd dan terdapat pada album The Wall yg dirilis pada tahun 1979.


Saya sengaja menonjolkan baris paling atas dari lirik tersebut. Terlepas dari filosofi atau arti yg dimaksudkan oleh Pink Floyd, menurut saya pendidikan (baca: sekolah) sangat penting. Baik untuk kemajuan orang itu sendiri maupun bagi bangsanya secara langsung maupun tidak langsung. Namun jika sekolah itu penting bagaimana dengan di Indonesia yang biaya sekolahnya mahal dan semakin mahal saja dari waktu ke waktu ?

Beberapa waktu yg lalu saya menonton acara parodi politik News dot Com yg ditayangkan oleh Metro TV hari Minggu malam. Di sana kebetulan ada sedikit pembahasan tentang pendidikan. Ada pernyataan di acara tersebut yang menyebutkan bahwa pemerintah harus bisa menyediakan pendidikan yang murah atau bahkan gratis untuk rakyatnya.

Hal itu terkait dengan biaya seluruh jenjang pendidikan yang semakin mahal dan memberatkan orang tua siswa. Sudah terlalu banyak di negara ini kisah anak yang putus sekolah gara2 tidak memiliki biaya. Dari dua hal tadi pertanyaan saya apakah biaya sekolah yang murah atau gratis bisa menjamin semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan yg mencukupi ?

Saya tidak yakin. Saya memakai dasar motivasi anak dalam bersekolah. Bagi keluarga yang tidak mampu masih masuk akal jika anak2 lebih baik bekerja daripada bersekolah, namun tidak jarang kita jumpai anak2 yang orang tuanya mampu, tetapi malas sekolah (baca: belajar). Jika memang sudah malas apakah biaya sekolah murah atau gratis bisa memotivasi anak ini utk belajar ? Saya rasa tidak. Jadi lebih baik anggaran pemerintah digunakan untuk meningkatkan gaji guru dan membangun gedung2 sekolah saja.

Menurut saya, kita tidak perlu bicara yg terlalu muluk tentang biaya sekolah murah atau gratis untuk seluruh anak Indonesia. Pemerintah bisa mulai dengan cara yg sedikit (relatif) lebih ringan yaitu mencari anak2 yg memiliki keunggulan2 dalam satu bidang misalnya ilmu eksakta, ilmu sosial, seni, olah raga, dll. Jika memungkinkan baik yang ada di kota2 besar maupun di daerah yang sedikit terpencil. Anak2 yg memiliki potensi ini diberikan bea siswa penuh oleh pemerintah untuk mendalami bakatnya dengan sungguh2. Setelah pendidikan selesai, mereka ini harus diwajibkan untuk membantu membangun atau memajukan negeri ini. Memang pada tahap ini kita mengetahui bahwa orang2 yang berpotensi cenderung utk pergi ke luar negeri karena di dalam negeri hanya sedikit yang bisa memanfaatkan dan menghargai bakat mereka. Di sinilah tugas lain dari pemerintah agar orang2 seperti ini tetap mau berada di Indonesia dan mendedikasikan kepandaiannya utk Indonesia.
Powered By Blogger