Remember the Time

A piece of paper to write everything I like.

Friday, November 30, 2007

Great Abyss and Infinite Sky

[A year and a night ago]
Made up his mind
It was wild, dangerous, and blind
Collected all his bravery
He tried that thing
Mind commanded, fingers were moving
It was started with small quantity
Ahhhhh…………….
Heaven couldn’t feel like this
You were sweet so damn beautiful
Others reached out for you
Didn’t even care to what they become
My heaven, my beauty took me 10 miles high to the sky above where god himself reside in it
Or maybe god touched and bless me with you
We would find peace in this wretched world now, someday, and forever
Don’t care about the thing that they said
Even the world burned to ashes, you were inside me forever
Keep it still and steady
My beauty, my precious

[Going deeper ‘Inside His Mind’]
Throwing every single of me inside you
Just for you
Everything else is meaningless
You and I are 1

[Blank]
NO more, is it true ? NO more, it doesn’t true, NO more
NO NO NO NO HOW DOES IT HAPPEN ????!!!!!
What have I’ve done ? Where am I ?
Please god, where are you now ? Why you take it from me ?
My sins to you, please forgive me
Crying..crying..crying
Too late, too late
PAIN
PAIN, BLEED, TEARS
PAIN
PAIN, BLEED, TEARS
Everyday is exactly the same PAIN
Just like the last time
Just beg and cry
It won’t be coming again
DAMN YOU !!!
Beautiful layer
Precious whore
Now I’m fill with disease, infection
Fell so impure
.
.
.
LEeeeeT MEeeee GOOoooo !!!!!!
[{>({)}S><}{)))>><{}(]
If I could go back in time
I will fix myself
I’ll find a way
Before I’m six foot deep

Wednesday, November 21, 2007

Unreal-Futsal

Beberapa waktu lalu saya membaca di surat kabar bahwa di Rusia ada satu jenis olah raga baru yaitu chess-boxing. Sesuai namanya olah raga ini menggabungkan pertandingan tinju dan catur. Satu pertandingan dibagi menjadi beberapa ronde, dimana ronde ganjil digunakan untuk catur (selama 4 menit) sedangkan genap untuk tinju (selama 2 menit). Seorang atlit dianggap menang pertandingan dengan cara skakmat, KO, keputusan juri, atau jika lawan telah menghabiskan keseluruan waktu permainan catur (12 menit). Olah raga ini sendiri baru ada di Jerman dan Rusia. Mungkin jika sudah diterima masyarakat luas bisa saja suatu hari nanti olah raga ini akan dimasukkan ke olimpiade.

Terinspirasi oleh hal tadi, saya juga ingin menciptakan permainan hybrid seperti itu. Saya sudah merencanakan namanya yaitu Unreal-Futsal. Futsal adalah cabang olah raga yang mirip dengan sepak bola dan dimainkan oleh 5 orang dalam 1 timnya. Sedangkan Unreal adalah game multiplayer FPS di PC. Khusus untuk permainan ini yang dipakai adalah seri Unreal terbaru yaitu Unreal 3. Mode yang dipakai adalah Team Deathmatch (TD). Dalam TD ada dua tim yang bertanding (umumnya tim merah dan biru) dimana masing-masing tim berusaha membunuh anggota tim lawan sebanyak-banyaknya dalam satu ronde yang telah ditentukan waktunya. Setiap pemain yang berhasil membunuh lawannya akan memperoleh nilai frag. Sedikit catatan mengapa mode TD yang dipilih, pertama TD harus dimainkan oleh dua tim, kedua TD sangat mudah dimainkan dan tempo permainannya yang sangat cepat.

Cover Unreal Tournament 3

Saya juga sedikit memikirkan sedikit peraturan untuk hal ini. Pertama permainan ini dibagi menjadi empat babak. Babak 1 dan 3 adalah futsal, sedangkan babak sisanya adalah Unreal. Kedua Futsal tetap memakai aturan sudah ada, sedangkan yang berubah adalah waktu tiap babaknya yaitu menjadi 15 menit. Ketiga Unreal memakai peraturan no friendly fire, instant respawn, dan berlangsung selama 15 menit. Keempat score permainan. Score dihitung dengan menggunakan sistem konversi. Alasannya adalah agar kedua permainan memiliki kontribusi yang sama dalam menentukan kemenangan sebuah tim. Gambaran kasarnya saya adalah 1 poin sama dengan 1 gol futsal atau 30 frag untuk 1 tim. Jika hasil bagi nilai frag tidak bulat maka dipakai sistem pembulatan satu angka di belakang koma. Contohnya 1,0 sampai 1,4 sama dengan 1, sedangkan 1,5 sampai 1,9 sama dengan 2.

Sebagai penutup, saya ingin mengemukakan alsan mengapa ide ini saya buat. Dari pengalaman, saya mengetahui bahwa seorang gamer PC cenderung tidak banyak bergerak. Mereka hanya duduk dan menatap ke monitor saja selama berjam-jam. Hal ini tentu tidak baik karena orang membutuhkan olah raga agar tubuh bisa menjadi lebih fit. Untuk mendorong gamer PC ’berlatih’ game sekaligus berolah raga maka permainan ini saya ciptakan.

Lebih jauh lagi bidang olah raga yang bisa digunkan tidak terbatas pada futsal saja, tetapi semua jenis olah raga yang memakai nilai sebagai penentu kemenangan. Namun saya menganjurkan agar olah raga tersebut dilakukan di tempat yang tidak terlalu luas sehingga permainan bisa berlangsung cepat tanpa terlalu banyak berpindah ke sana ke mari tapi tidak kunjung menghasilkan poin. Untuk jenis gamenya sendiri bisa digunakan genre selain FPS, yang dipentingkan adalah permainan elektronik apa saja yang bisa dimainkan bersama-sama oleh semua anggota dalam 1 tim sehingga kekompakkan dan kerja sama tim tetap bisa terjaga.

Balada Dangdut

Pada kesempatan sebelumnya saya telah membahas soal kecenderungan industri musik di Indo. Pada bahasan kali ini saya akan memfokuskan diri pada satu jenis musik saja yaitu dangdut. Seperti kita ketahui dangdut adalah jenis musik yang disukai hampir oleh seluruh rakyat Indonesia. Setiap pagelaran musik yang menyuguhkan penyanyi dangdut pasti orang-orang akan berduyun-duyun menyaksikannya. Begitu juga pada acara pernikahan di daerah Jatim ini, orang yang punya acara pasti menyuguhkan musik dangdut sebagai sarana penghibur dan penyemarak suasana. Salah satu produsen rokok juga tidak ketinggalan untuk menyertakan musik dangdut sebagai sarana mempromosikan produknya dimana hal itu terlihat dari iklannya di televise yang menggambarkan suasana pertunjukan musik dangdut.

Beberapa tahun belakangan ini gaung musik dangdut juga semakin menjadi-jadi. Banyak orang yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut. Salah satunya adalah Inul Daratista. Pendapat saya, Inul adalah seorang entertainer yang hebat karena selain bernyanyi ia juga mempopulerkan pakem bahwa musik dangdut harus diikuti oleh goyangan yang heboh. Pada saat ini mungkin saja kepopuleran Inul sudah tidak setinggi sewaktu dia muncul pertama kali karena begitu banyak pendatang baru yang masuk ke jalur musik dangdut ini. Tapi tetap saja jika nama Inul disebutkan pada suatu pertunjukkan musik pasti penonton akan menyambut antusias penampilannya. Bahkan untuk saya sendiri yang sama sekali bukan penggemar musik dangdut ada sesuatu yang lebih jika mendengar suatu pertunjukkan (baik dangdut maupun bukan) yang mengikutkan Inul di dalamnya.

Jika kita bisa mengingat kembali di masa awal-awal Inul mulai popular. Betapa berat tantangan yang harus dihadapinya. Banyak pihak mengecam penampilannya di panggung. Mereka mengatakan bahwa goyangan Inul sangat-sangat melanggar norma kesopanan yang dijunjung tinggi masyarakat Indo. Saya masih ingat bagaimana Inul menangis ketika mengunjungi Gus Dur karena besarnya kecaman yang ditujukan kepadanya termasuk yang datang dari musisi dangdut senior Rhoma Irama. Memang sangat berat bagi seseorang untuk menjadi pelopor dalam suatu hal yang baru. Sebagai perbandingan, dahulu grup musik legendaris Deep Purple juga dibilang hanya mampu membuat lagu-lagu yang terlalu ribut. Padahal jika dilihat sekarang, musik rock atau metal tidak akan seperti sekarang jika tidak ada band seperti Deep Purple.

Dengan kepopuleran Inul, muncul wacana bahwa di Indo perlu adanya UU anti pornografi dan pornoaksi. Pihak pemerintah terus saja berjuang bagaimana merumuskan undang-undang yang paling tepat. Di sisi lain pakem yang telah dibuat Inul seperti sudah mendarah daging. Tidak terhitung berapa banyaknya penyanyi dangdut wanita tunggal maupun grup yang membawakan lagu-lagu dangdut dengan goyangan yang makin heboh. Pihak-pihak yang dahulu mengecam Inul-pun seakan-akan tidak kuasa lagi membendung perkembangan musik dangdut ini karena penggemar dangdut memang tidak peduli dengan semua wacana norma atau UU. Mereka hanya perlu hiburan dan dangdut menyediakan, jadi peduli amat dengan aturan-aturan. Jika saya seandainya saya adalah pencinta dangdut maka saya akan mengatakan “Ok, anda bilang itu melanggar norma-norma. Silakan anda yang paham buat aturan-aturannya. Kita hanya perlu hiburan setelah sehari-hari bekerja. Jadi mari kita rame-rame menonton dangdut sambil bergoyang.”

Di sini saya tidak akan membahas perlu atau tidaknya UU yang mengatur tentang anti pornografi dan pornoaksi karena itu diluar kapasitas saya sebagai warga negara. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat dan ada dalam pikiran saya. Beberapa waktu lalu saya melihat acara di Indosiar yang berisi pemilihan penyanyi dangdut muda. Kebetulan bintang tamu pengisi acara itu adalah Trio Macan. Melihat mereka beraksi, saya bisa mengatakan bahwa goyangan dan pakaian mereka benar-benar bisa membangkitkan pikiran yang tidak-tidak dalam diri laki-laki. Seingat saya memang mereka tidak mengenakan pakaian terbuka. Seandainya pakaian tersebut berwarna hitam semuanya saya bisa mengatakan bahwa pakaian tersebut relatif sopan, namun kenyataanya tidak begitu. Pakaian mereka pas badan dengan warna yang sama dengan warna kulit. Ditambah lagi dengan goyangan dengan pose dan fokus pada bagian-bagian tubuh tertentu, maka mau tidak mau pasti orang yang melihat (terutama laki-laki normal) pasti akan membayangkan hal-hal diluar lagu dangdut itu sendiri. Jika saya mengatakan hal ini, pihak Trio Macan akan berdalih pikiran-pikiran seperti itu muncul karena orang itu sendiri yang pada dasarnya pikirannya memang kotor. Ok, saya bisa menerima pendapat itu, tapi sebagai perbandingan cobalah melihat DVD live Marilyn Manson yang berjudul Gun, God, Goverment (saya pernah membahasnya pada artikel lain di blog ini) terutama pada lagu Lunchbox. Aksi Trio Macan hanya seperti 3 anak kecil yang menyanyi bersama di panggung sekolah.

Hal yang menurut saya perlu dilihat bukanlah apakah pikiran penontonnya yang kotor atau memang penyanyinya yang mengundang ke arah sana. Pertama kita tahu bahwa semua orang pasti bisa mendengar dan melihat aksi dari penyanyi dangdut, namun berapa orang yang bisa menikmatinya dari sudut pandang seni ? Saya yakin tidak banyak. Menurut saya, menikmati dari sudut pandang seni adalah mampu menggabungkan semua aspek (pengelihatan, pendengaran, perasaan) yang ada dalam pertunjukkan tersebut dan menemukan inti sesungguhnya dari seni tersebut. Jika fokus hanya diarahkan pada satu aspek saja, apa yang dipersepsikan tentu akan menyimpang dari inti seni itu sendiri. Sebagai contoh, di Bali ada model yang memang mau dilukis dalam keadaan telanjang. Bagi orang awam hal ini bisa dipandang sebagai bentuk pornografi, namun bagi pelukisnya profesional bisa saja hal ini dipandang sebagai bentuk manusia yang sesungguhnya sebagaimana Tuhan menciptakan. Disini kita bisa melihat bagaimana pelukis mampu melihat sesuatu yang jauh lebih indah daripada apa yang mampu diterima oleh indra pengelihatan saja.

Selain aksi panggung, saya juga ingin membahas tentang teknik menyanyi dangdut itu sendiri. Pada acara Stardut, saya melihat salah satu kometator yang merupakan salah satu artis dangdut bernyanyi. Ketika mendengar saya baru sadar ini adalah cara menyanyikan lagu dangdut yang sebenarnya atau mungkin juga dangdut gaya lama. Dari situ juga saya menimpulkan bahwa untuk menyanyikan lagu dangdut membutuhkan suatu teknik tertentu dan juga latihan. Kebetulan saya hanya tahu satu teknik saja yaitu cengkok, namun pasti dalam musik dangdut ada lebih banyak lagi teknik. Di lain sisi, jika saya mengamati penyanyi dangdut saat ini hampir semuanya menyanyi dengan gaya pop atau bahkan rock misalnya lagu Cucak Rowo (gaya pop), Mbah Dukun (gaya rock). Dari segi aransemen menurut saya lebih unk lagi. Sebagian besar isi lagu memakai gaya dangdut (dominan suara ketipung, suling, keyboard), namun pada bagian intro atau interlude bakal memakai gaya Hard Rock bahkan Metal (dominan suara distorsi gitar, melodi gitar dengan kecepatan tinggi, gebukan bass drum, snare, cymbal). Ada juga yang menggunakan unsur-unusr lagu house dalam lagu dangdut misalnya Kucing Garong. Selain itu ada juga kebiasaan mengarasemen lagu-lagu pop dengan menggunakan alat-alat musik khas dangdut (ketipung, suling, keyboard) misalnya lagu Separuh Napas (Dewa 19) ketika dinyanyikan oleh Inul. Karena bukan komposer musik, saya tidak tahu apakah sebuah lagu pop jika dimainkan menggunkan ketipung, dkk sudah bisa dikategorikan lagu dangdut.

Hal terkahir yang saya amati adalah musik dangdut saat ini suka sekali mencomot barisan nada dari lagu lain. Sekali lagi saya tegaskan barisan nada bukan chord. Saya tahu bahwa suatu lagu bisa saja mempunyai baisan chord yang sama persis misalnya With or Without You (U2) dengan Whenever You Will Go (The Calling), namun susunan nadanya sama sekali berbeda. Dari hal itu maka kesamaan urutan chord tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan plagiat. Namun yang saya lihat dari lagu dangdut adalah mencomot mentah-mentah urutan nada-nada dari lagu lain. Yang saya temukan adalah lagu Cucak Rowo hampir ¾ bagiannya mencomot lagu anak-anak berbahasa Inggris (sayang saya tidak tahu judulnya, namun saya punya lagu tersebut). Contoh lain adalah lagu Kucing Garong bagian interlude bahkan mencomot dari 3 lagu yang berbeda yaitu Rasputin (Bonnie M), Otherside (Red Hot Chilli Papper),dan 1 lagu House yang saya tidak tahu judulnya, namun cukup populer. Dari sebuah sumber, saya membaca bahwa suatu lagu dikategorikan plagiat jika 7 baris nadanya sama persisi dengan lagu lain. Saya tidak tahu kedua lagu tadi sudah mencomot berapa baris. Mungkin saja masih kurang dari 7 sehingga tidak ada pihak label yang mengajukan gugatan. Atau mungkin saja label malas mengajukan gugatan karena memang begitullah gaya pencipta lagu dangdut.

Saya sangat menyayangkan bahwa musik dangdut sebagai suatu karya seni khas Indonesia hanya dibiarkan begitu saja dan terperosok dalam berbagai macam cap yang buruk termasuk salah satunya musik kelas rendahan. Sungguh sayang sekali.
Akhir kata, bisa saja semua contoh dan deskripsi yang saya kemukakan di atas salah karena saya memang bukan ahli musik. Tapi begitulah pendapat saya sebagai penonton TV yang mau tidak mau pasti suatu kali akan berhadapan dengan lagu-lagu dangdut.

(bagi pembaca, saya mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia membaca artikel yang begitu panjang yang serius dan tanpa ada gambar atau variasi lainnya)

Inside His Head

I am too connected to you
Slip away, fade away.
Days away I still feel you
Touching me, changing me,
And considerately killing me.
                                                    ['H.' by Tool]

Foreigners say Kuta is a wonderful beach
Listeners say The Beatles is an extraordinary band
Buyer say Roll Royce is the most luxurious car
I say You are so beautiful

Oh my beautiful Liar
Oh my precious Whore
my Disease my Infection
I AM so impure
                                                       ['Reptile' by NIN]

Wednesday, November 7, 2007

Antara Seni Musik dan Komersialitas (part II)

Pada bagian sebelumnya saya menceritakan bagaimana saya berkenalan dengan band Tool. Dari yg semula merasa tidak suka dan menyesal telah membeli albumnya sampai akhirnya mengaggumi band ini. Pada bagian ini saya lebih menyoroti perkembangan band di tanah air. Sebelumnya saya katakan bahwa saya SAMA SEKALI TIDAK membenci hasil karya band tanah air karena bagaimana-pun juga setiap lagu adalah hasil karya seni dan setiap seni pasti memiliki keindahan tersendiri bagi org yg bisa menikmatinya.

Saya sendiri tidak tahu kapan dimulainya tren membentuk band di Indo. Saya hanya merasa sejak band Sheila on 7 muncul dan populer banyak sekali band2 Indo yg bermunculan. Kebanyakan mengusung musik pop dengan balutan suara distorsi gitar. Beberapa juga memasukkan unsur musik rock dalam iramanya. Ada band2 tertentu yg juga menyebut musiknya dengan genre tertentu ada juga yg tidak. Apa-pun klaim band tersebut bagi saya unsur pop biasanya paling mendominasi. Entah itu karena pemilihan tema liriknya atau nada2 yg dipilihnya. Saya biasanya cukup mengatakan ini genre pop Indo.

Yg saya sayangkan adalah musik2 mainstream di Indo terlalu dikendalikan oleh industri. Hanya sedikit celah yg bisa dimanfaatkan oleh musikus utk mengekspresikan jiwa seninya. Saya pasti tidak akan bisa menemukan band seperti Tool di jalur mainstream Indo. Akibatnya band2 Indo (terutama yg baru) terasa monoton bagi saya. Tema paling umum yg dipakai dalam lagu adalah cinta. Ada musisi yg beralasan tema ini bersifat universal, semua orang mengerti, dan sangat luas utk dieksplorasi. Saya setuju hal ini, tetapi apakah harus tema cinta manusia ke manusia saja yg dipakai ? Beberapa lagu dengan tema cinta berbeda saya temukan di lagu Pangeran Cnta (Dewa) dan Sandaran Hati (Letto). Walau saya hanya mendegarkan lagu2 ini jika dimainkan di TV saja, saya angkat topi bagi band yg bisa membuat tema sedalam ini.

Dalam hal komposisi lagu dan aransemen memang antara satu band dengan lainnya pasti terdapat perbedaan, namun tetap berada pada benang merah yg persis sama. Saya sangat menyayangkan hal ini karena sangat banyak musisi berbakat di Indo, namun karena tangan2 besi major label mereka harus tunduk pada pakem aransemen yg ada. Saya tidak tahu lagi jika ternyata musisi itu sendiri yg dengan suka rela menyerahkan dirinya dan mengorbankan bakatnya kepada tangan2 besi major label. Semua dengan alasan untuk mendapatkan kontrak dan agar musiknya laku dijual di pasar. Jika benar hal ini yang terjadi 1 kalimat yg pas adalah ”Happiness in Slavery.”

Pihak major label tidak juga bisa disalahkan sepenuhnya karena mungkin juga konsumen Indo lebih menyukai musik ringan yg mudah dimengerti dan dinyanyikan. Seandainya diberikan musik seprti Tool mgkn tanggapannya pasti tidak jauh beda dari bapak saya ketika mendengarkan Tool. Kemungkinan lain dari saya. Sejak SO7 populer di tanah air, konsumen Indo seakan-akan sudah diedukasi bahwa musik seharusnya seperti itu. Dengan semakin banyaknya band2 yg mengikuti jejak SO7, edukasi itu semakin lama semakin merasuk sehingga akhirnya dalam benak konsumen Indo terbentuk pakem bahwa musik yg bagus adalah pop dengan balutan unsur2 rock ringan dan bertema cinta. Jika hal ini terjadi tentu mau tidak mau siapapun musikus yg ingin berhasil secara finansial harus mengikuti pakem ini. Jadi musisi dan genre musik bisa dianalogikan seperti telur dan ayam, manakah yg muncul lebih dulu ?

Satu hal yg sedang ngetren di Indo adalah penjual musik utk diapakai sebagai ring tone atau nada sambung pribadi. Dengan maraknya bajakan di Indo, penjualan album berupa kaset atau CD tidak bisa terlalu tinggi. Untuk menyiasati hal ini major label bekerja sama dengan provider atau operator seluler utk memasarkan musiknya secara digital. Hal ini adalah langkah yg sangat bagus dari segi marketing. Yg saya sayangkan adalah akibat dari strategi ini. Saya melihat bahwa cover kaset atau CD sekarang dipenuhi oleh kode2 ringtone atau NSP. Kesannya adalah cover itu hanyalah pemanis yg ujung2nya juga digunakan sebagai media utk mendapat pundi2 uang yg lebih banyak lagi. Padahal bagi band di luar negeri seperti Tool cover album justru adalah media utk mengekspresikan seni.

Sebagai penutup saya ingin memberikan suatu ide bagi band di tanah air. Umumnya band suatu saat pasti mempunyai ide untuk mengubah arah musik yg selama ini telah mereka buat misalnya yg biasa membuat lagu2 pop mellow suatu saat mempunyai ide utk membuat musik pop yg lebih upbeat atau yg lainnya. Utk kreasi2 yg diluar pakem atau warna musik umum dr band itu kemungkinan besar akan ditolak oleh label dan tidak dimasukkan dalam album. Tetapi suatu band-kan tidak harus hanya dinikmati dari CD atau kaset. Maka dari itu saya punya usul agar lagu2 yg lebih berkesan project ini ditampilkan saja secara live. Agar penonton tahu, sebelumnya band harus memberikan kata2 pembuka sebelum lagu ini dimainkan misalnya ”Ini adalah lagu yg baru kami buat 1 jam sebelum naik ke atas panggung. Bagi tentu belum tahu lagu ini. Bla...bla..bla... Lagu ini diberi judul bla..bla...bla.” Mgkn saat pertama kl fans tentu akan diam saja mendengarnya, tp jika lagu selalu disisipkan pada tiap kesempatan tentu fans akan mengenal dan membicarakannya. Dengan perkembangan teknologi musik digital saat ini, bukan tidak mgkn ada fans yg membuat bootleg dari lagu ini dan menyebarkannya ke internet.
Jika hal ini dilakukan terus-menerus tentu akan menjadi semacam edukasi bagi fans agar mengetahui bahwa band ini mempunyai keinginan utk membuat lagu dengan warna seperti ini. Tanggapan dari fans bisa diketahui dari email, forum, mgkn juga request bootleg tersebut di radio, dll. Jika ternyata sambutan positif, tentu major label pasti akan mau menerima gaya musik yg baru ini dan memasukkan lagu tersebut dalam album. Singkatnya cara ini sebenarnya menggunakan kekuatan fans untuk ’memaksa’ major label agar mau menerima idealisme suatu band. Satu catatan akhir ada baiknya seluruh hal ini dikonsultasikan terlebih dahulu dengan kuasa hukum band tersebut untuk mencegah adanya pelanggaran terhadap kontrak yg telah ditandatangani band tersebut.

Kornet So Good

Beberapa waktu lalu saya beberapa kali mendengar iklan satu produk makanan baru yaitu kornet ayam dan sapi merk So Good. Awalnya saya amat bosan mendengarkannya karena dalam jangka waktu sekitar setengah jam kira2 iklan ini muncul 5 kali. Beruntung setelah 5 kali itu akhirnya saya mampu untuk mengacuhkan iklan ini. Dan iklan ini terus saja berbunyi. Sampai suatu saat, isi dari iklan ini benar2 masuk ke telinga saya dan diproses oleh otak. Saya akhirnya paham apa maksud dari iklan ini. Dan menurut saya cukup memprovokasi.

Hal pertama yg saya tangkap, iklan ini bertujuan utk mengenalkan produk kornet yg baru itu. Sudah wajar jika produk baru diperkenalkan ke masyarakat lewat iklan di televise. Karena ini kornet sebelum dimakan perlu sedikit diolah terlebih dahulu, wajarlah jika iklan ini diletakkan di pagi hari waktu ibu2 banyak yg menonton televisi.

Yg kedua adalah bagaimana cara mengolah bahan kornet menjadi makanan. Apa mgkn kita tidak mengerti bagaimana cara mengolah bahan makanan ini ? Saya tidak tahu pasti. Yg pasti ibu saya umumnya mengolah kornet dengan cara dimasak dengan telur. Saya menyebutnya ommelete kornet. Mgkn satu acuan yg bisa saya pakai adalah perkataan staff di pabrik kornet merk Pronas di Bali. Bapak tersebut mengatakan bahwa layanan konsumen Pronas sering ditelpon oleh ibu2 yg menanyakan bagaimana cara mengolah kornet selain dengan menggunakan telur. Staff tersebut memberi alasan bahwa kornet sebenarnya adalah bahan makanan dari Belanda sehingga wajarlah jika kita yg hidup di Indo agak bingung bagaimana cara mengolahnya.

Kembali ke iklan tadi. Di sana disebutkan bahwa kornet bisa dicampur dengan nasi goring, bubur, dan mie instant. Jd dengan hal ini So Good sudah melakukan sebuah terobosan utk mempopulerkan kembali bahan kornet ke masyarakat. Saya sendiri melihat bahwa Pronas dan CIP, dua merk kornet local yg sudah lama ada di Indo, tidak terlalu agresif utk mengiklankan produk kornetnya ke masyarakat dan juga tidak mengedukasi masyarakat utk menggunakan kornet dalam campuran makanan2 ringan yg sering dikonsumsi oleh masyarakat.

Sebagai orang yg awam teori pemasaran saya cukup tergerak dengan iklan ini. Sampai saya bertanya ke ibu, bagaimana model & rasa masakan mie instant yg dicampur dengan kornet ?
Powered By Blogger