"I've been hurt because of it, I don't want you to feel the same"
Ini adalah salah satu pengalaman yang akan selalu saya ingat dalam hidup. Bukan karena saya dendam atau benci, tetapi karena saya tidak ingin melakukan hal sama kepada orang lain.
Kisah ini dimulai ketika saya baru pulang dari Bandung setelah mengikuti lomba statistik. Dalam lomba itu tim saya mendapatkan juara ke-3. Jadi ada sejumlah kecil hadiah yang saya terima. Namun yang lebih mengejutkan adalah uang yang diberikan oleh universitas kepada semua siswa yang mengikuti lomba sebagai biaya hidup. Ternyata jumlahnya hampir 3 kali lipat lebih besar daripada hadiah yang saya terima dari lomba tersebut. Sebenarnya itu adalah jasa dari dosen pendamping yang ikut menyertai . Dosen tersebut bisa mengatur seluruh biaya hidup yang diberikan univeristas kepada masing-masing siswa. Dan ketika lomba telah berakhir, keseluruhan biaya tersebut bisa dibagi rata kepada semua siswa yang mengikuti lomba.
Karena uang yang saya terima cukup lumayan, saya memutuskan untuk menggunakan sebagian untuk mentraktir teman-teman kos saya makan yang berjumlah 5 orang. Setalah mempertimbangkan beberapa hal , saya merasa perlu untuk mengajak satu teman lagi (sebut saja dia A). Kebetulan dia bukan teman kos saya. Untuk teman-teman kos, saya bisa dengan mudah memberi kabar ke mereka bahwa saya berencana untuk mengajak mereka makan pada hari Sabtu. Dan ternyata mereka semua tidak ada berencana pergi ke mana-mana pada hari Sabtu tersebut, maka dengan rencana tersebut sudah pasti berjalan dengan mulus. Sedangkan untuk si A, hari Jumat, saya mengirimkan SMS yang mengabarkan bahwa saya akan mengajaknya makan karena baru saja mendapatkan “rejeki” dari universitas. Si A juga bertanya siapa saja yang akan ikut. Saya menjawab hanya beberapa teman kos saya. Dan dia merasa sedikit kurang enak karena tidak kenal sama sekali dengan teman-teman kos saya. Saya mengerti memang posisi si A memang kurang menyenangkan karena harus berkumpul sama-sama dengan orang yang tidak dia kenal sama sekali. Waktu itu dia belum memutuskan menolak atau menerima ajakan saya. Dalam hati saya tidak berharap dia akan menerimanya. Jika dia menolak, saya juga tidak bisa menyalahkannya karena memang dia tidak dalam posisi yang menyenangkan.
Setelah hal itu, saya melakukan aktivitas kembali. Dan tidak ada angin atau hujan, tiba-tiba si A menelpon saya. Waktu melihat nama si A di layar HP, saya berpikir bahwa dia pasti akan menolaknya, tetapi karena kurang enak jika menolak ajakan lewat SMS maka dia menelpon. Mengapa saya bisa terlalu pesimis seperti itu ? Karena si A tidak pernah menelpon, menjawab sesuatu pasti lewat SMS, tidak jarang SMS juga tidak dijawab sama sekali. Jika dia sampai menelpon maka itu pasti extremely tidak menyenangkan jika disampaikan lewat SMS.
Ternyata perkiraan saya meleset 180 derajat. Dia menerima ajakan saya, tetapi dia akan mengajak satu temannya sebagai teman bicara. Yang lebih unik dia mengatakan bahwa dia akan membayar sendiri makanan temannya. Saya mengatakan bahwa itu tidak perlu karena harga 1 makanan tidak akan terlalu mahal, tetapi dia bersikeras. Daripada dia menolak ikut gara-gara urusan membayar makanan, saya menyetujui usulnya. Waktu itu kita berbicara selama beberapa menit untuk membicarakan tempat makannya, kapan dan di mana tempat ketemuannya. Semua berakhir dengan lancar sesuai dengan rencana awal saya. Malam itu, saya bisa tidur dengan nyenyak bahwa semua rencana saya bakal terlaksana dengan baik.
Hari Sabtu pagi, saya mengikuti sebuah kuliah 2 SKS yang berakhir dengan cepat. Setelah itu, saya pulang ke kos untuk bersiap-siap pergi dan menunggu teman-teman lain yang belum pulang kuliah. Kira-kira 2 jam sebelum waktu yang ditentukan, 4 orang teman kos saya sudah tiba di kos, sedangkan yang satu masih parkir di game centre. Saya yakin teman yang satu itu bakal cepat pulang. Seandainya belum pulang juga, kita semua bakal berangkat terlebih dahulu dan dia disuruh menyusul. No problem for game freak.
Lalu yang terakhir saya mengirim SMS untuk A. Dengan santai, saya menanyai, apa sudah siap berangkat & di mana kita bakal ketemuan. Bak disambar geledek di siang bolong yang cerah dan panas. Dia hanya menjawab, aku tidak jadi ikut karena sore mau ke pergi ke undangan saudaranya. Dari sana, saya memutuskan untuk makan di tempat yang dekat dengan rumahnya agar dia bisa cepat pulang setelah makan. Lagi-lagi dia menjawab, selain dia mau ke pesta, temannya juga tidak bisa ikut karena harus pergi ke pesta perkawinan saudaranya. Akhirnya mau tidak mau dia pasti tidak bisa ikut. Beragam perasaan campur aduk dalam pikiran saya. Yang bisa saya katakan adalah campuran dari kecewa, marah, heran, dan tidak percaya. Saya mengakui bahwa ada beberapa persen dari perasaan itu diakibatkan karena si A tidak jadi ikut. Namun yang jauh lebih menyakitkan adalah mengapa si A tidak memberi tahu saya malam harinya. Ok, mungkin pada malam hari memang si A belum mengetahui semua hal itu. Pagi hari ketika dia sudah mengetahuinya mengapa tidak segera memberi tahu entah lewat SMS atau telepon. Ok, mungkin dia sedang sibuk sampai lupa. Tetapi yang saya tidak habis mengerti mengapa dia kemarin malam mau menelpon ke HP saya yang jelas biayanya mahal, tetapi waktu pagi hari ketika tidak jadi ikut sama sekali tidak mau memberi kabar. Lebih buruk lagi, mengapa harus saya yang bertanya terlebih dahulu baru dia mau menjawab kalau tidak jadi ikut. Yang jelas bagi saya, jika si A memang sudah merasa tidak nyaman kenapa kemarin malam tidak langsung menolaknya. Justru rasa sungkan menolak itu yang membuat saya lebih sakit hati. Hal terakhir yang aneh bagi saya kenapa si A tidak bertanya dengan jelas ke temannya apakah dia benar-benar mau ikut atau tidak. Dari semua hal itu, saya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya si A sendiri yang tidak mau ikut tapi dia mencari-cari alasan yang masuk akal untuk menolak. Saya tidak pernah tahu alasannya dan tidak ingin menanyakannya. Karena saya yakin si A pasti sudah melupakannya dan jika saya bertanya malah akan membawa permusuhan.
Setalah semua itu terjadi, saya kembali ke kamar untuk menunggu teman kos yang game freak pulang. Dengan semua perasaan tidak enak yang campur menjadi satu, saya membuka koleksi MP3. Waktu itu ada 1 lagu yang baru saya copy dan belum sempat didengarkan. Dari nama file-nya lagu tersebut berjudul Broken Hearted Woman dengan penyanyinya adalah Jessica Jay. Waktu itu saya tidak peduli dengan penyanyi atau liriknya. Waktu itu saya merasa bahwa lagu ini sangat pas dengan perasaan saya. Saya segera mengambil gitar yang ada di pojok kamar saya dan mencari chord dari lagu itu. Tidak terasa hanya dalam waktu 15 menit saya bisa menemukan semua chord dari lagu tersebut. Setelah itu saya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk memutar lagu itu berulang-ulang sambil mengiringinya dengan gitar.
Teriakan teman dari bawah yang menanyakan apakah saya sudah siap berangkat, menyadarkan saya. Akhirnya saya mengganti baju dll dan berangkat dengan teman-teman kos saya. Dalam perjalanan saya sendiri heran bagaimana bisa saya menemukan chord lagu itu sedemikian cepatnya. Padahal menurut perkiraan saya untuk lagu seperti itu paling tidak butuh waktu di atas 1 jam untuk mencarinya. Malamnya, ketika sudah kembali ke kos, saya mencoba mendengarkan lagu itu kembali, tenyata tidak senikmat waktu mendengarkannya tadi siang.
CATATAN KAKI:
Ada beberapa alasan mengapa saya tetap bisa mengingat kejadian itu. Pertama adalah setelah acara makan tersebut, saya dan teman-teman menonton film Doom. Doom sendiri adalah salah satu game FPS yang saya sukai. Kedua adalah restoran tempat saya makan ternyata rasanya sangat pas dengan lidah saya dan tetap menjadi kegemaran saya sampai hari ini. Ketiga pada hari Minggu besoknya, orang tua saya datang dan kami sekeluarga makan di restoran yang lain. Restoran tersebut adalah tempat di mana saya dan si A berencana akan makan bersama. Soal lagu Broken Hearted Woman, sampai hari ini saya
tidak bisa menemukan liriknya,
mungkin saja judul & nama penyanyi yang ditulis di file MP3 saya salah. Yang saya tahu lagu itu ada versi mandarinnya, tetapi isinya sama atau tidak, saya tidak tahu. Saya tidak pernah lagi mendengarkan lagu itu lagi setelah kejadian ini dan catatan saya
tentang chord lagu ini juga hilang
entah ke mana.
FOR A:
Seandainya kamu membaca hal ini dan tahu bahwa sebenarnya dirimulah yang kau jadikan pusat pembicaraan di sini, janganlah marah padaku. Aku sama sekali tidak dendam kepadamu. Aku memaafkan dirimu seandainya jika kamu berbohong padaku, tetapi jika seandainya semua perkiraanku salah maka aku minta maaf. Semua yang aku tulis di sini adalah perasaanku sejujurnya waktu itu. Aku berusaha untuk menceritakannya semirip mungkin dengan kejadian aslinya. Mungkin ada beberapa hal yang salah karena aku memang sudah melupakannya. Aku menuliskan hal ini karena aku sudah berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama sepertimu. Justru di sini aku ingin berterima kasih karena tanpa dirimu aku belum tentu akan mengalami hal tadi.
Good luck for you A, I’ll always remember you as a good friend despite all you’ve done to me. Without you my life will be so much different, because there is time when my life so colorful because of you.


1 comment:
Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Vinho, I hope you enjoy. The address is http://vinho-brasil.blogspot.com. A hug.
Post a Comment