Hari ini saya mencoba 1 game yg telah saya bawa dr Indo yaitu Simcity. Ternyata benar2 membosankan, maka saya putuskan untuk menuliskan beberapa hal yg telah saya lalui selama 2 minggu ini. Saya berencana intuk menuliskan beberapa hal yg berbeda kali ini, maka untuk menghindari kebingungan tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa part.
PART I : BETRAYAL
Ini mungkin bukan bagian yg bagus untuk memulai sebuah tulisan, tetapi saya sengaja memasukannya karena alasan kronologis. Sebelum semuanya dimulai sebenarnya ada satu kejadian yang saya alami yaitu pengkhianatan. Dalam hal ini berupa janji yang tidak ditepati. Entah apa yg dipikirkan oleh pihak tersebut, entah dia merasa atau tidak jika sebenarnya dia telah mengkhianati seseorang. Sebagai korban saya seharusnya sangat membenci pihak tersebut, namun (dari pengalaman) amarah dan kebencian justru akan memperburuk masalah. Maka saya memutuskan untuk tetap baik kepada pihak tersebut dengan cara melupakan karena perbuatannya.Namun anehnya justru pihak tersebut yang berubah membenci dan acuh tak acuh terhadap saya. Bukankah ini aneh. Mungkin saja ini dikarenakan pihak tersebut merasa bersalah kepada saya. Namun dari semua sikap saya bukankah dia seharusnya bisa menilai bahwa saya sudah tidak mempermasalahkan pengkhianatannya lagi. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai siapa yang salah atau betul. Jika ternyata kami berdua bersalah saya hanya akan berkata “If there is a hell, I’ll see you there”
Satu pelajaran dari hal ini, dalam berbuat sesuatu sebaiknya kita memikirkan terlebih dahulu bagaimana dampaknya bagi orang lain. Atau cara lain adalah membayangkan jika kita berada dalam posisi orang tersebut dan ada orang lain yang berbuat demikian bagaimana rasanya. Saat ini saya membayangkan bahwa Tuhan sangat adil terhadap diri saya karena sudah ditunjukkan bagaimana rasanya dikhianati sehingga saya tidak akan berbuat demikian kepada orang lain. Saya juga berpikir mungkin Tuhan sedang menunjukkan suatu jalan baru yang lebih baik untuk saya.
PART II : BEING OLD DOESN’T MEAN SOMEONE IS GROWN UP
Saya juga mengalami kejadian dimana seseorang yang sudah berumur berindak tidak lebih dari seorang anak TK. Saya tidak bisa menceritakan nama & kejadian sesungguhnya karena tidak akan baik jika diketahui oleh pihak yang dimaksudkan. Saya hanya member ilustrasi yang mirip.
Bayangkan ada 5 orang siswa TK sedang bermain di halaman sekolah pada saat istirahat. Kemudian satu anak mengeluarkan 1 buah permen dan memakannya di hadapan ke-4 temannya. Karena anak ini memang dikenal tidak suka berbagi dan cenderung lebih suka mengiming2i maka anak yg lain hanya mendiamkan saja. Lalu tanpa ditanya anak itu lalu mengatakan, “Ini permen baruku. Dibelikan oleh kakakku ketika dia berlibur ke Singapura. Rasanya enak sekali lho. Di Indo gak ada permen yang rasanya seperti ini. Rasanya buah2an dicampur dengan coklat. Sebetulnya aku punya 2 biji tapi yang satu sudah kuberikan pada teman lesku.” Salah satu temannya kemudian menyeletuk, “Wah enak juga ya punya kakak yang bisa membelikan oleh2 permen kesukaan adiknya.”
Ini ilustrasi kejadian yang saya alami sendiri, dimana di kejadian sesungguhnya anak kecil pembawa permen itu adalah orang yang sudah seumuran dengan orang tua saya sendiri.
Kesimpulan saya, untuk punya anak & jadi orang tua itu sangat gampang. Namun menjadi orang tua yang benar2 berpikiran dewasa untuk mendidik anak2nya tidak semua orang bisa.
PART III : SENTOSA ISLAND
Kebetulan kemarin saya perdi ke tempat wisata Sentosa Island. Di sana saya berjalan2 sebentar di pantai, pakai acara foto2 pula. Juga ikut naik kereta gantung, nonton pertunjukkan Song of The Sea. Waktu kelaparan juga makan. Ya lumayan bersenang2 setelah kuliah 1 minggu.
Tentang pantai. Saya berjalan2 sebentar di sana dan mengamati apa saja yang bisa dilihat di pantai tersebut. Karena sedang week end jadi lumayan ramai walaupun tidak sampai penuh sesak. Pengunjung banyak orang bule & Singaporean sendiri. Yang justru saya amati adalah panjang pantainya. Di sana sangat pendek tidak seperti pantai di Kuta yang sangat panjang. Lainnya lagi dari pantai jika melihat ke laut justru yang terlihat adalah kapal2 barang yang sedang berlabuh. Bandingkan dengan pantai di Indo (Kuta misalnya) dimana kita bisa melihat laut yang bersih dari kapal2 besar pengangkut barang. Sayang pantai di Indonesia tidak dikelola sebaik di sini. Banyak sampah, tidak teratur. Andai negara kita bisa mengolahnya pantai di Sentosa ini tidak lebih daripada mobil Toyota dibandingin dengan Porsche.
Pengalaman menarik juga pada waktu naik kereta gantung. Waktu sedang menanjak naik saya sangat ketakutan. Karena di sana ada alat foto, saya bisa melihat bagaimana reaksi ketakutan saya. Muka serius, tegang, kedua tangan memegang erat2 pengaman kursi. Definitely freak up !!! Bagian yg saya sukai adalah sehabis naik kereta gantung itu. Di sana kita bisa naik mobil2an yg bergerak karena gaya gravitasi bukan mesin. Jadi kita naik mobil2an di lintasan yang dibuat berliku2 & menurun. Saya sangat suka karena mobil bisa melaju dengan kencang, walau saying lintasannya sangat pendek.
Bagian yg menarik lainnya adalah pertunjukkan The Song of the Sea. Itu adalah pertunjukkan yang memadukan manusia, pertunjukan laser, api (pyrotechnic), air, lagu, cahaya, kambang api, dan cerita yang simple. Lokasi pertunjukannya adalah di pinggir pantai dan menghadap ke laut. Waktu pertunjukannya juga malam dan sedikit remang2. Mungkin untuk menambah kesan romantic. Bicara tentang cerita sebetulnya cukup konyol bagi saya. Ceritanya adalah khas tipe2 Damsel in Distress. Cewek cantik dikutuk dan menunggu ditolong sama cowok yang kesemsem karena kecantikannya. Untuk cerita ini kasusnya adalah Princess Mia yang dikutuk tertidur dan ada pemuda bernama Lee yang berusaha menolongnya dengan menggunakan nyanyian. Nyanyiannya sendiri menurut saya sangat tidak menginspirasi. Saya justru tertarik oleh atraksi air, pyrotechnic, dan kembang apinya. Karena semua itu dipadukan dengan baik dan diiringi oleh musik yang sesuai. Bagian favorit saya adalah pada waktu permainan pyrotechnic yang dipadukan dengan iringan musik yang terdiri dari perkusi yang menghentak-hentak.
Satu hal yang secara implicit dapat ditangkap dari pertunjukan ini adalah negara singapura menghormati semua ras yang ada di negaranya baik moayoritas maupun minoritas. Pada adegan awal dimana tokoh manusia bernyanyi2 di pinggir pantai, mereka menyanyikan lagu berbahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India. Di mana ini mewakili bahasa yang dipakai oleh ras yang tinggal di Singapura. Walau ada beberapa ras di Singapura, namun mayoritas adalah ras Cina. Dan pertunjukan ini menyampaikan hal itu, walaupun secara implisit. Hal itu terlihat dari 2 tokoh utamanya yaitu Lee dan Pricess Mia. Nama Lee sudah menunjukkan bahwa dia adalah ras Cina, sedangkan Princess Mia, walaupun hanya berupa gambar hasil perpaduan sinar laser tampak sangat jelas berasal dari ras Cina.
Saya juga menemui satu hal yang cukup “unik” pada saat berjalan di pinggir pantai. Kebetulan di dekat saya ada tempat yang bisa dibuat untuk berenang. Secara tidak sengaja, saya melihat di sana ada sepasang muda-mudi sedang berendam dalam air dan sedang bercengkerama dengan asyiknya. Mereka tidak melakukan apa2 hanya berbicara sambil berendam, namun jarak kepala kedunya sangat dekat sekali. Padahal di daerah tersebut bukan tempat yang sepi, namun mereka tidak malu dan orang2 yang lewat atau duduk di daerah itu juga tidak peduli dan tidak memperhatikan. Dalam hal ini, saya kagum dengan sikap orang Singapura yang memang menghormati kebebasan orang lain. Mereka tahu bahwa Sentosa adalah tempat wisata dan sangat wajar jika orang datang dengan pasangannya. Dan anda pasti tahu bagaimana kelakuan sepasang anak manusia jika berada tempat yang nyaman dan romantis.
PART IV : THE CAMPUS ITSELF
Kampus saya sebenarnya sama saja dengan kampus yang lain. Hanya saja jauh lebih besar daripada universitas saya pada waktu S1. Karena besar dan tidak semua orang hapal jalan ke arah mana, hampir di setiap lorong ada papan petunjuk arah. Walaupun pada tulisan awal, saya tersesat ke mana2 hanya untuk mencari 1 ruangan, namun dengan berjalannya waktu akhirnya saya lumayan bisa mengikuti arah yang ditulis di papan petunjuk. Sedikit catatan, seorang dosen juga mengomentari bahwa papan petunjuk tersebut tidak jelas karena tidak ada petunjuk seberapa jauh ruangan tersebut berada. Jadi ketersesatan saya waktu itu cukup beralasan.
Ruangan kelasnya sendiri ada 2 macam yaitu kelas besar dan kecil. Kelas besar bentuknya hampir seperti gedung bioskop. Tempat duduk yang bertingkat dan layar yang menangkap gambar dari LCD proyektor di bagian paling bawah tepat di tengah2 ruangan. Hal yang menarik dari ruangan ini ada 3. Pertama adalah pengaturan akustiknya. Suara dosen pengajar bisa terdengar dengan jelas ke seluruh bagian ruangan. Yang lebih unik suara mahasiswa yang bertanya atau menjawab pertanyaan juga bisa terdengar dengan jelas pula ke seluruh ruangan walaupun dia tidak menggunakan mic. Dengan catatan bicaranya tidak berbisik2. Kedua adalah kursi. Kursi di ruangan ini sandarannya tidak fixed alias bisa tegak atau menjadi sedikit menyandar ke belakang. Bagusnya lagi semaksimal apapun kita menyandar pasti akan tetap tegak. Sehingga menurut saya kursi ini tidak terlalu enak untuk tidur. Sandaranny sendiri juga penuh tertutup alias tidak ada bagian terbuka. Jadi untuk mahasiswi tidak perlu bingung apabila bajunya sedikit pendek. Bicara lebih jauh tentang pakaian. Di sini baik semua siswa bebas mengenakan pakaian apa saja. Di mana dalam hal ini tentu mahasiswi akan lebih diuntungkan karena bisa bebas mengenakan pakaian apa saja. Hal ketiga yang menarik adalah letak jam dinding. Jam diletakkan membelakangi siswa sehingga hanya dosen yang bisa melihat jam tersebut. Hal ini menurut saya bagus karena mendorong siswa tidak bingung melihat kapan waktu kuliah berakhir, telebih lagi apabila kuliahnya malam. Untuk kelas kecil ruanganna biasa tidak ada yang istimewa.
Hal lainnya adalah soal kantin. Di sini ada banyak kantin. Tp saya hanya pernah mencoba di dua tempat yaitu kantin engineering dan kantin art. Sementara yang lain cukup jauh sehingga saya malas mencarinya. Kantin di sini memang benar2 untuk mahasiswa. Artinya harga dan makanannya bisa dibilang lumayan murah daripada penjual makanan di luar kampus. Di 2 kantin itu tadi juga ada 2 restoran fast food yaitu McDonald dan Burger King. Harganya sendiri juga lebih murah daripada di luar kampus. Bahkan kalau menjadi member juga bisa mendapat diskon. Kebetulan saya hanya pernah sekali membeli di McD karena sudah terlalu lapar. Hal yang unik lagi adalah tradisi sesudah makan. Di sini semua piring, mangkuk, gelas, atau baki yang sudah selesai digunakan harus dikembalikan sendiri oleh penggunanya ke rak khusus untuk dicuci. Raknya sendiri ada 2 macam yaitu untuk muslim dan non-muslim. Anda pasti tahu apa alasannya. Di sini saya juga melihat bahwa di kampus-pun ditanamkan sikap menghargai keyakinan orang lain.
Di kampus ini juga ada toko buku. Dari beberapa buku yang saya akan beli ternyata harganya jauh lebih murah daripada membeli di luar kampus. Saya mencoba membandingkan 1 buku yang saya beli seharga sing$40 an dengan di Amazon. Ternyata berbeda jauh. Amazon menjualnya lebih dari US$100. Saya beranggapan bahwa buku2 di sini memang sengaja diberi harga yang pas dengan tingkat ekonomi mahasiswa Asia.
Berbeda dengan kampus Indo, di sini semua serba online. Urusan slide kuliah, tugas semua diberikan lewat internet. Kita pasti bisa mendownload slide kuliah sebelum kuliahnya sendiri berlangsung. Namun ada satu kekurangannya, dosen di sini slidenya gila2an. Waktu pertama kali saya sampai syok ketika melihat satu kali kuliah slidenya 70 halaman. Mau di print model gimana. Terlalu kecil takut tidak ada tempat mencatat, terlalu besar bakal tebal. Maka saya memutuskan mengeprint 1 halaman 2 slide dan bolak-balik. Walau agak tebal saya rasa itu yang terbaik. Kenyataannya pada saat kuliah ternyata banyak slide yang dilewati. Ditambah lagi dosen pengajarnya juga tidak enak, akibatnya saya bingung hal apa yang harus dicatat. Walhasil semua hasil print “agak” terbuang sia2.
Berikutnya adalah beberapa hal menarik yang saya alami. Pertama adalah tentang bis. Suatu hari sepulang kuliah saya menuju ke bus stop yang tidak biasanya. Di sana adalah tempat mangkal bis2 ketika malam hari. Kebetulan bis yang datang adalah yang biasa saya gunakan untuk pulang. Bis itu mendekat dan menurunkan orang, tapi anehnya pintu untuk masuknya tidak dibuka. Saya terbengong-bengong di depan pintu dan lebih bengong lagi ketika bis itu ngeloyor pergi untuk parkir. Kebetulan ada seorang mahasiswa India yang baik hati. Dia menjelaskan bahwa bis itu mau berhenti sehingga tidak menerima penumpang. Yang bisa dinaiki adalah bis lain yang sudah lebih dahulu parkir di tempat itu. Istilahnya bis2 itu gantian jalan. Baru dari situ saya mengerti. Ketika sampai di rumah saya berpikir mungkin orang India tadi mau memberi tahu karena dia dulu mungkin pernah mengalami hal itu.
Kedua adalah ketika menunggu bis untuk pulang. Kebetulan ada orang India yang berpapasan dengan saya. Lucunya dia mengenakan baju yang sama dengan milik saya. Saya terbengong2 kaget dan dia-pun juga sedikit melotot. Entah karena merasa risih dipandangi atau karena kaget juga kok bisa baju sama. Padahal selama kuliah S1 belum pernah sekalipun saya menemui orang yang berpakaian sama di waktu yang sama dengan saya.
Ketiga adalah masalah kebebasan umum. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas ketika di Sentosa. Di kampus, banyak ditemui pasangan yang bermesraan. Memang tidak separah yang di Sentosa, namun berpelukan, berciuman (dalam batas wajar) itu adalah hal biasa di sini. Gaya hidup cuek dan bebas memang sudah mendarah daging di sini.
PART V : EPILOGUE
Saya rasa tulisan ini harus diakhiri sampai di sini dulu. Ini adalah beberapa cuplikan yang saya anggap menarik. Mungkin di lain waktu saya bisa menulis hal lain yang lebih menarik dan kembali kepada root awal saya ketika membuat sebuah blog.


No comments:
Post a Comment