Remember the Time

A piece of paper to write everything I like.

Wednesday, November 21, 2007

Balada Dangdut

Pada kesempatan sebelumnya saya telah membahas soal kecenderungan industri musik di Indo. Pada bahasan kali ini saya akan memfokuskan diri pada satu jenis musik saja yaitu dangdut. Seperti kita ketahui dangdut adalah jenis musik yang disukai hampir oleh seluruh rakyat Indonesia. Setiap pagelaran musik yang menyuguhkan penyanyi dangdut pasti orang-orang akan berduyun-duyun menyaksikannya. Begitu juga pada acara pernikahan di daerah Jatim ini, orang yang punya acara pasti menyuguhkan musik dangdut sebagai sarana penghibur dan penyemarak suasana. Salah satu produsen rokok juga tidak ketinggalan untuk menyertakan musik dangdut sebagai sarana mempromosikan produknya dimana hal itu terlihat dari iklannya di televise yang menggambarkan suasana pertunjukan musik dangdut.

Beberapa tahun belakangan ini gaung musik dangdut juga semakin menjadi-jadi. Banyak orang yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut. Salah satunya adalah Inul Daratista. Pendapat saya, Inul adalah seorang entertainer yang hebat karena selain bernyanyi ia juga mempopulerkan pakem bahwa musik dangdut harus diikuti oleh goyangan yang heboh. Pada saat ini mungkin saja kepopuleran Inul sudah tidak setinggi sewaktu dia muncul pertama kali karena begitu banyak pendatang baru yang masuk ke jalur musik dangdut ini. Tapi tetap saja jika nama Inul disebutkan pada suatu pertunjukkan musik pasti penonton akan menyambut antusias penampilannya. Bahkan untuk saya sendiri yang sama sekali bukan penggemar musik dangdut ada sesuatu yang lebih jika mendengar suatu pertunjukkan (baik dangdut maupun bukan) yang mengikutkan Inul di dalamnya.

Jika kita bisa mengingat kembali di masa awal-awal Inul mulai popular. Betapa berat tantangan yang harus dihadapinya. Banyak pihak mengecam penampilannya di panggung. Mereka mengatakan bahwa goyangan Inul sangat-sangat melanggar norma kesopanan yang dijunjung tinggi masyarakat Indo. Saya masih ingat bagaimana Inul menangis ketika mengunjungi Gus Dur karena besarnya kecaman yang ditujukan kepadanya termasuk yang datang dari musisi dangdut senior Rhoma Irama. Memang sangat berat bagi seseorang untuk menjadi pelopor dalam suatu hal yang baru. Sebagai perbandingan, dahulu grup musik legendaris Deep Purple juga dibilang hanya mampu membuat lagu-lagu yang terlalu ribut. Padahal jika dilihat sekarang, musik rock atau metal tidak akan seperti sekarang jika tidak ada band seperti Deep Purple.

Dengan kepopuleran Inul, muncul wacana bahwa di Indo perlu adanya UU anti pornografi dan pornoaksi. Pihak pemerintah terus saja berjuang bagaimana merumuskan undang-undang yang paling tepat. Di sisi lain pakem yang telah dibuat Inul seperti sudah mendarah daging. Tidak terhitung berapa banyaknya penyanyi dangdut wanita tunggal maupun grup yang membawakan lagu-lagu dangdut dengan goyangan yang makin heboh. Pihak-pihak yang dahulu mengecam Inul-pun seakan-akan tidak kuasa lagi membendung perkembangan musik dangdut ini karena penggemar dangdut memang tidak peduli dengan semua wacana norma atau UU. Mereka hanya perlu hiburan dan dangdut menyediakan, jadi peduli amat dengan aturan-aturan. Jika saya seandainya saya adalah pencinta dangdut maka saya akan mengatakan “Ok, anda bilang itu melanggar norma-norma. Silakan anda yang paham buat aturan-aturannya. Kita hanya perlu hiburan setelah sehari-hari bekerja. Jadi mari kita rame-rame menonton dangdut sambil bergoyang.”

Di sini saya tidak akan membahas perlu atau tidaknya UU yang mengatur tentang anti pornografi dan pornoaksi karena itu diluar kapasitas saya sebagai warga negara. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat dan ada dalam pikiran saya. Beberapa waktu lalu saya melihat acara di Indosiar yang berisi pemilihan penyanyi dangdut muda. Kebetulan bintang tamu pengisi acara itu adalah Trio Macan. Melihat mereka beraksi, saya bisa mengatakan bahwa goyangan dan pakaian mereka benar-benar bisa membangkitkan pikiran yang tidak-tidak dalam diri laki-laki. Seingat saya memang mereka tidak mengenakan pakaian terbuka. Seandainya pakaian tersebut berwarna hitam semuanya saya bisa mengatakan bahwa pakaian tersebut relatif sopan, namun kenyataanya tidak begitu. Pakaian mereka pas badan dengan warna yang sama dengan warna kulit. Ditambah lagi dengan goyangan dengan pose dan fokus pada bagian-bagian tubuh tertentu, maka mau tidak mau pasti orang yang melihat (terutama laki-laki normal) pasti akan membayangkan hal-hal diluar lagu dangdut itu sendiri. Jika saya mengatakan hal ini, pihak Trio Macan akan berdalih pikiran-pikiran seperti itu muncul karena orang itu sendiri yang pada dasarnya pikirannya memang kotor. Ok, saya bisa menerima pendapat itu, tapi sebagai perbandingan cobalah melihat DVD live Marilyn Manson yang berjudul Gun, God, Goverment (saya pernah membahasnya pada artikel lain di blog ini) terutama pada lagu Lunchbox. Aksi Trio Macan hanya seperti 3 anak kecil yang menyanyi bersama di panggung sekolah.

Hal yang menurut saya perlu dilihat bukanlah apakah pikiran penontonnya yang kotor atau memang penyanyinya yang mengundang ke arah sana. Pertama kita tahu bahwa semua orang pasti bisa mendengar dan melihat aksi dari penyanyi dangdut, namun berapa orang yang bisa menikmatinya dari sudut pandang seni ? Saya yakin tidak banyak. Menurut saya, menikmati dari sudut pandang seni adalah mampu menggabungkan semua aspek (pengelihatan, pendengaran, perasaan) yang ada dalam pertunjukkan tersebut dan menemukan inti sesungguhnya dari seni tersebut. Jika fokus hanya diarahkan pada satu aspek saja, apa yang dipersepsikan tentu akan menyimpang dari inti seni itu sendiri. Sebagai contoh, di Bali ada model yang memang mau dilukis dalam keadaan telanjang. Bagi orang awam hal ini bisa dipandang sebagai bentuk pornografi, namun bagi pelukisnya profesional bisa saja hal ini dipandang sebagai bentuk manusia yang sesungguhnya sebagaimana Tuhan menciptakan. Disini kita bisa melihat bagaimana pelukis mampu melihat sesuatu yang jauh lebih indah daripada apa yang mampu diterima oleh indra pengelihatan saja.

Selain aksi panggung, saya juga ingin membahas tentang teknik menyanyi dangdut itu sendiri. Pada acara Stardut, saya melihat salah satu kometator yang merupakan salah satu artis dangdut bernyanyi. Ketika mendengar saya baru sadar ini adalah cara menyanyikan lagu dangdut yang sebenarnya atau mungkin juga dangdut gaya lama. Dari situ juga saya menimpulkan bahwa untuk menyanyikan lagu dangdut membutuhkan suatu teknik tertentu dan juga latihan. Kebetulan saya hanya tahu satu teknik saja yaitu cengkok, namun pasti dalam musik dangdut ada lebih banyak lagi teknik. Di lain sisi, jika saya mengamati penyanyi dangdut saat ini hampir semuanya menyanyi dengan gaya pop atau bahkan rock misalnya lagu Cucak Rowo (gaya pop), Mbah Dukun (gaya rock). Dari segi aransemen menurut saya lebih unk lagi. Sebagian besar isi lagu memakai gaya dangdut (dominan suara ketipung, suling, keyboard), namun pada bagian intro atau interlude bakal memakai gaya Hard Rock bahkan Metal (dominan suara distorsi gitar, melodi gitar dengan kecepatan tinggi, gebukan bass drum, snare, cymbal). Ada juga yang menggunakan unsur-unusr lagu house dalam lagu dangdut misalnya Kucing Garong. Selain itu ada juga kebiasaan mengarasemen lagu-lagu pop dengan menggunakan alat-alat musik khas dangdut (ketipung, suling, keyboard) misalnya lagu Separuh Napas (Dewa 19) ketika dinyanyikan oleh Inul. Karena bukan komposer musik, saya tidak tahu apakah sebuah lagu pop jika dimainkan menggunkan ketipung, dkk sudah bisa dikategorikan lagu dangdut.

Hal terkahir yang saya amati adalah musik dangdut saat ini suka sekali mencomot barisan nada dari lagu lain. Sekali lagi saya tegaskan barisan nada bukan chord. Saya tahu bahwa suatu lagu bisa saja mempunyai baisan chord yang sama persis misalnya With or Without You (U2) dengan Whenever You Will Go (The Calling), namun susunan nadanya sama sekali berbeda. Dari hal itu maka kesamaan urutan chord tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan plagiat. Namun yang saya lihat dari lagu dangdut adalah mencomot mentah-mentah urutan nada-nada dari lagu lain. Yang saya temukan adalah lagu Cucak Rowo hampir ¾ bagiannya mencomot lagu anak-anak berbahasa Inggris (sayang saya tidak tahu judulnya, namun saya punya lagu tersebut). Contoh lain adalah lagu Kucing Garong bagian interlude bahkan mencomot dari 3 lagu yang berbeda yaitu Rasputin (Bonnie M), Otherside (Red Hot Chilli Papper),dan 1 lagu House yang saya tidak tahu judulnya, namun cukup populer. Dari sebuah sumber, saya membaca bahwa suatu lagu dikategorikan plagiat jika 7 baris nadanya sama persisi dengan lagu lain. Saya tidak tahu kedua lagu tadi sudah mencomot berapa baris. Mungkin saja masih kurang dari 7 sehingga tidak ada pihak label yang mengajukan gugatan. Atau mungkin saja label malas mengajukan gugatan karena memang begitullah gaya pencipta lagu dangdut.

Saya sangat menyayangkan bahwa musik dangdut sebagai suatu karya seni khas Indonesia hanya dibiarkan begitu saja dan terperosok dalam berbagai macam cap yang buruk termasuk salah satunya musik kelas rendahan. Sungguh sayang sekali.
Akhir kata, bisa saja semua contoh dan deskripsi yang saya kemukakan di atas salah karena saya memang bukan ahli musik. Tapi begitulah pendapat saya sebagai penonton TV yang mau tidak mau pasti suatu kali akan berhadapan dengan lagu-lagu dangdut.

(bagi pembaca, saya mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia membaca artikel yang begitu panjang yang serius dan tanpa ada gambar atau variasi lainnya)

1 comment:

Anonymous said...

Iya bener tuh cicak rowo,baru denger versi lagu anak2nya,sama bgt

Powered By Blogger