Tradisi mudik adalah kebiasaan yg setiap tahun dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Pada waktu mudik terjadi perpindahan orang yg besar2-an, umumnya dari kota2 besar ke kota yg lebih kecil. Mereka umumnya menggunakan kendaran umum dan juga kendaran pribadi pada waktu kembali ke kampung halamannya.
Dari hasil penelitian Jawa Pos jumlah mobil yg digunakan tahun ini berjumlah sekitar 1,2 juta, sedangkan sepeda motor sekitar 2,4 juta. Jadi pengguna sepeda motor dua kali lipat lebih banyak dari mobil. Hal inilah yg ingin saya cermati.
Beberapa tahun terakhir ini bisa kita amati bahwa jumlah sepeda motor dari tahun ke tahun semakin meningkat. Jika kita keluar rumah pada hari2 libur, Sabtu, atau Minggu malam, bisa kita lihat bahwa ada banyak sekali sepeda motor di jalan. Bahkan bisa dibilang kemacetan di jalan juga diakibatkan oleh sepeda motor yg melimpah ruah. Melihat hal ini, saya sering bercanda dalam hati mengatakan, sekarang ini sepeda motor tidak ada bedanya dengan sekumpulan laron yg mengelilingi sumber cahaya. Berputar ke kanan-kiri, ke depan, belakang, dll.
Hal yg saya memprihatinkan saya adalah perilaku pengendara sepeda motor. Saya melihat banyak pengendara yg sangat2 tidak menghormati pemakai jalan yg lain, mau menang sendiri, tidak patuh pada aturan jalan raya, dll. Semua orang pasti sudah tahu gaya pengendara sepeda motor yg zig-zag dr satu jalur ke jalur yg lain, belok sekenanya tanpa melihat apa yg ada di belakangnya dan tanpa memberi tanda. Ada juga perilaku yg tidak sabaran yg sebenarnya akan membahayakan diri pengendara motor sendiri seperti berada di sebelah kiri mobil yg akan berbelok walupun cm ada sedikit tempat, memotong jalur mobil yg sedang berjalan lurus utk karena akan berbelok ke kanan atau kiri, berbelok dengan kecepatan tinggi kadang juga langsung menyeberang ke jalur di sebelahnya, dll. Beberapa kali saya juga menjumpai perilaku pengendara yg jelas2 belum terbiasa mengendarai motor seperti lupa mematikan lampu sein, berjalan lurus namun gontai layaknya anak kecil yg baru pertama kali belajar mengendarai sepeda roda dua. Ada juga tren terbaru yg mengubah suara bel atau knalpot dengan suara2 yg aneh seperti bunyi lonceng sapi, suara ledakan petasan, dll.
Sudah tidak terhitung berapa kali saya merasa jengkel dengan perilaku pengendara yg seperti ini. Pernah suatu kali karena sudah sangat jengkel dalam hati saya mengatakan pengendara yg ngawur ini lebih baik tidak pernah dilahirkan atau jika mau lebih cepat mati saja. Dengan satu syarat mati bukan karena kecelakaan tp karena penyakit atau apa yg tidak merugikan orang lain. Sebab kecelakaan sendiri masih akan menyebabkan kerugian bagi orang lain.
Memang pikiran ini sedikit gila, namun saya memiliki alasan kecil mengapa ini jauh lebih baik. Jika ada satu pengendara yg sejak muda sudah terbiasa ugal-ugalan, suatu saat dia menikah dan punya anak. Ada kemungkinan anak tersebut akan diajari naik sepeda motor oleh bapak yg ugal2-an tadi. Hasilnya pasti juga akan sama atau bahkan lebih ugal2an. Mgkn sang bapak selama ini masih baik2 saja, tp apakah menjamin sang anak juga akan terus mujur seperti sang bapak. Jika tidak tentu akan mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak salah satunya adalah sang orang tua.
Pendapat ini saya yakin tidak benar karena analoginya jika sebuah pohon menghasilkan buah yg jelek lebih baik dimusnahkan dulu saja pohonnya sebelum keluar buah yg jelek. Apakah tidak lebih baik memberikan nutrisi atau vitamin pada pohon agar buahnya bisa baik ? Jika dikembalikan lagi ini sama saja dengan mengubah sistem pemberian SIM. Mgkn gambaran kasarnya adalah memperketat syarat pemberian SIM, agar orang2 yg sudah benar2 paham akan aturan jalan raya yg pantas turun ke jalan. Dengan sistem dan kebiasaan yg ada sekarang ini, saya pesimis cara ini bisa diterapkan dengan benar. Seandainya saja hal ini benar2 terjadi, orang yg pantas ini masih harus berhadapan dengan orang2 lama yg kebiasaan ugal2annya sudah mendarah daging. Prinsip saya, kita bisa saja mengendarai kendaran dengan benar tp orang lain belum tentu seprinsip dengan kita bahkan tidak jarang malah menganggap kita ini yang berkendara dengan ugal2an. Solusi saya adalah selalu waspada di jalan, senantiasa belajar dari setiap kejadian di jalan, memastikan kondisi kita dan kendaraan selalu prima, dan sedapat mungkin menghilangkan hal2 yg bisa mendatangkan bahaya dari diri kita sendiri.
Akhir kata, saya tidak bermaksud mendiskreditkan pengendara kendaraan di mana-pun juga. Saya hanya ingin menceritakan beberapa kesalahan yg sering dilakukan oleh pengendara sepeda motor karena motor adalah alat transportasi dimana pengendaranya sangat minim mendapatkan perlindungan dari kendaraan. Maka dari itu utk kebaikkan saya, anda, dan bangsa ini, tulisan ini dibuat.


No comments:
Post a Comment